Kabayan dalam Karung
Nangka di batang pohon, hasil panen yang diangkut dalam karung. Gambar: Rjcastillo · CC BY-SA 4.0 · sumber
Musim panen tiba, dan Abah, mertua Si Kabayan, tak mau menantunya berleha-leha. Pagi-pagi ia sudah membangunkan Kabayan dan mengajaknya ke kebun untuk memetik nangka. Kabayan berjalan di belakangnya sambil menguap dan memikirkan cara untuk kembali tidur.
Belum lama bekerja, ia memegangi perutnya sambil meringis.
“Aduh, Bah. Perut saya melilit. Sepertinya saya harus pulang.”
Abah memandanginya dengan curiga, tetapi akhirnya mengizinkan. Kabayan berjalan terbungkuk-bungkuk sampai ke balik semak. Di sana ia berhenti dan memandang sekeliling. Di bawah pohon ada tumpukan karung. Pulang masih jauh, sedangkan karung terlihat empuk. Ia masuk ke dalam salah satu karung, meringkuk, dan mulai mendengkur halus.
Sore harinya Abah memasukkan nangka hasil panen ke karung-karung itu. Karung terakhir ternyata sudah terisi, dan terasa berat. Tanpa membukanya, ia mengikatnya dan memanggulnya pulang sendirian. Keringatnya bercucuran. Setiap kali lelah, ia menurunkan beban itu dengan sekali banting, dan setiap kali itu pula Kabayan menahan napas di dalam.
Sampai di rumah, karung itu dijatuhkan ke lantai. “Aduh!” terdengar dari dalamnya, pelan sekali. Abah menoleh ke dapur dan mengira istrinya yang bersuara. Selagi ia pergi mengambil minum, Kabayan merayap keluar dan berjalan terpincang-pincang ke kamar. Saat ditanya, ia menjawab bahwa perutnya sudah membaik, tetapi kakinya entah mengapa jadi sakit.
Tak butuh waktu lama bagi Abah untuk mengetahui apa yang terjadi. Ia marah, kemudian mendapat ide. Besok ia akan membalas.
Keesokan harinya, Kabayan benar-benar bekerja di kebun karena takut dimarahi. Abah mengendap-endap, lalu masuk ke sebuah karung dan bersembunyi. Ia ingin merasakan digendong pulang oleh menantunya, sekaligus memberi pelajaran.
Kabayan memasukkan nangka ke karung yang kosong, mengikatnya, dan menemukan satu karung yang sudah berisi. Ia menendang-nendangnya pelan. Berat. Karena sudah lelah, ia mengikat mulut karung itu dan menyeretnya di jalan berbatu. Durugdug, durugdug.
“Aduh! Kabayan! Ini Abah!” terdengar suara dari dalam.
Kabayan berhenti, lalu menepuk-nepuk karung itu sambil tersenyum tipis.
“Ah, mana mungkin Abah ada di dalam karung. Jelas ini nangka. Nangka pandai sekali meniru suara.”
Durugdug, durugdug, terus sampai ke rumah. Di depan pintu, karung itu ia jatuhkan begitu saja. Ambu keluar dan membuka ikatannya. Dari dalam merangkaklah Abah, penuh goresan dan debu, dengan napas tersengal-sengal.
Ambu mengobati lecet-lecet suaminya dengan air abu sambil menggeleng. “Sudah tua kok meniru kelakuan Kabayan.”
Dua hari lamanya Abah beristirahat di bale-bale. Sejak itu ia selalu membuka karung sebelum mengangkatnya.
💖 Pesan Moral
- Balas dendam sering menyakiti yang membalas. Abah ingin memberi pelajaran, tetapi dirinya sendiri yang diseret di jalan berbatu.
- Yang pura-pura sakit bisa sakit betulan. Kebohongan Kabayan juga dibayar dengan kaki pincang.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Sunda tentang Si Kabayan, salah satu versi; dalam versi lain, isi karung bukan nangka melainkan kacang koro.