Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Abu Nawas dan Telur di Kolam Pemandian

3 menit baca

Miniatur Persia yang menggambarkan Harun Ar-Rasyid di pemandian. Gambar: فارسی: منسوب به بهزاد و میرک English: Ascribed to Mīrak and Bihzād · Public domain · sumber

Baginda Raja sedang merencanakan sesuatu, dan dari caranya tersenyum, para menteri tahu itu pasti ada hubungannya dengan Abu Nawas. Sudah terlalu sering lelaki itu lolos dari jebakan istana. Kini Baginda ingin melihatnya kebingungan, sekali saja.

Maka dibuatlah rencana. Baginda dan kedelapan belas menterinya akan berendam di pemandian air panas. Sebelum Abu Nawas datang, setiap orang menyembunyikan sebutir telur ayam di tepi kolam, tempat yang tidak terlihat dari atas. Jumlahnya sembilan belas butir, satu untuk setiap orang, dan tidak ada satu pun untuk sang tamu.

Undangan pun dikirim. Abu Nawas datang dengan gembira, sebab pemandian air panas itu terkenal menyegarkan badan. Ia masuk ke kolam, menyapa Baginda dan para menteri, lalu ikut duduk berendam.

Setelah beberapa saat, Baginda berdeham.

“Abu Nawas, hari ini kita bermain. Aku ingin tahu siapa di antara kita yang paling hebat. Setiap orang harus menyelam, lalu naik sambil membawa telur yang ia hasilkan sendiri. Siapa yang tidak bisa bertelur akan menerima hukuman.”

Abu Nawas ternganga. Manusia bertelur? Sebelum ia sempat bertanya, Baginda sudah menarik napas dan menyelam. Tak lama kemudian ia muncul sambil mengangkat sebutir telur dengan wajah puas.

“Nah, telurku sudah keluar!”

Menteri pertama menyelam, lalu naik dengan sebutir telur. Menteri kedua menyusul. Satu per satu mereka menghilang di bawah air dan muncul dengan telur di tangan, berdiri berjajar di tepi kolam, sambil melirik Abu Nawas dan berusaha keras tidak tertawa.

Tinggal Abu Nawas seorang. Sembilan belas pasang mata memandanginya. Ia menatap deretan telur itu, lalu wajah Baginda, lalu wajah para menteri yang memerah menahan tawa. Sekarang ia paham permainan ini. Ia juga paham bahwa di bawah sana tak akan ada telur untuknya.

Abu Nawas menarik napas panjang dan menyelam. Lama ia di bawah. Baginda mulai tersenyum penuh kemenangan.

Tiba-tiba air kolam itu pecah. Abu Nawas melompat naik sambil mengepakkan kedua tangannya seperti sayap dan berkokok sekuat tenaga.

“Kukuruyuuuk! Kukuruyuuuk!”

Baginda hampir terpeleset. “Abu Nawas! Apa-apaan ini? Mana telurmu?”

“Ampun, Baginda,” jawabnya sambil membungkuk dalam. “Di kolam ini ada sembilan belas ekor ayam betina yang pandai bertelur. Masa tidak ada pejantannya? Hambalah ayam jantan itu. Ayam jantan tidak bertelur, Baginda. Kukuruyuk!”

Sunyi sejenak. Baginda memandangi telur di tangannya. Para menteri memandangi telur di tangan mereka. Wajah mereka merah, dan kali ini bukan karena air panas. Tanpa berkata apa-apa, satu per satu mereka naik dari kolam dan pergi, sedangkan Abu Nawas tetap berendam sendirian dengan tenang.

💖 Pesan Moral

  • Jebakan bisa berbalik. Siapa yang merancang lelucon untuk mempermalukan orang lain perlu siap menjadi bahan lelucon itu sendiri.
  • Saat terdesak, tetaplah tenang. Jawaban terbaik biasanya muncul setelah kita menarik napas panjang.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Abu Nawas yang dikenal dengan judul “Manusia Bertelur”, salah satu versi. Tokoh ini diilhami penyair Baghdad Abu Nuwas, tetapi anekdot-anekdotnya adalah cerita rakyat.