Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Abu Nawas Menangkap Angin

3 menit baca

Botol kuno dari dunia Islam. Abu Nawas tentu punya alasan memilih botol yang tertutup rapat. Gambar: Tidak diketahui · CC0 · sumber

Sudah beberapa hari Baginda Raja tidak nyaman. Perutnya kembung, tidurnya tidak nyenyak, dan makanan selezat apa pun terasa hambar. Tabib istana dipanggil. Setelah memeriksa perut Baginda, ia mengangguk-angguk dan menyimpulkan, “Baginda terkena serangan angin.”

Baginda mengerutkan dahi. Angin berani menyerang raja? Di tengah rasa kesalnya, ia tiba-tiba teringat seseorang yang sudah lama tidak ia kerjai. Bukankah ini kesempatan bagus?

Abu Nawas segera dipanggil menghadap.

“Abu Nawas,” titah Baginda dengan wajah serius, “angin sudah berani mengganggu perutku. Tangkap angin itu dan penjarakan. Aku beri waktu tiga hari. Kalau gagal, engkau sendiri yang masuk penjara.”

Para menteri menahan senyum. Abu Nawas hanya menunduk dan mohon diri, sementara kepalanya terasa pening. Bagaimana mungkin menangkap sesuatu yang tidak punya tubuh dan tidak bisa dipegang?

Sehari penuh ia duduk di beranda. Setiap kali daun di halaman bergoyang, ia memandanginya dengan sedih. Istrinya menyuguhkan makanan, tetapi ia hanya makan sedikit. Hari kedua pun berlalu tanpa gagasan. Ia keluar masuk rumah, berjalan ke pasar, lalu pulang dengan tangan kosong.

Pada hari ketiga, ketika ia duduk termenung sambil memainkan sebuah botol kosong, perutnya berbunyi. Abu Nawas terdiam. Lalu pelan-pelan ia tersenyum, dan senyum itu makin lebar. Tidak lama kemudian ia sudah menyumbat botol itu rapat-rapat dan berangkat ke istana sambil bersiul.

“Hamba datang membawa tahanan, Baginda,” katanya sambil berlutut dan menyerahkan botol itu.

Baginda memutar botol tersebut di depan matanya. Ia menggoyangkannya, mengetuk-ngetuknya, dan mengangkatnya ke arah cahaya.

“Isinya tidak ada apa-apa! Mana anginnya?”

“Ampun, Baginda. Angin memang tidak bisa dilihat. Kalau ingin membuktikan, silakan buka tutupnya dan cium.”

Dengan penasaran Baginda mencabut sumbatnya dan mendekatkan botol ke hidung. Sedetik kemudian wajahnya berubah. Ia terbatuk-batuk dan botol itu nyaris terlepas dari tangannya.

“Bau apa ini, Abu Nawas?”

“Ampun beribu ampun, Baginda,” jawab Abu Nawas dengan wajah sangat sopan. “Tadi pagi hamba buang angin, lalu segera hamba penjarakan di dalam botol, sesuai titah Baginda. Angin yang lain sangat liar, jadi hanya yang ini yang berhasil hamba tangkap.”

Ruang istana itu mendadak riuh. Para menteri yang tadi tersenyum kini menutup hidung sambil tertawa tertahan. Baginda ingin marah, tetapi ia sendiri sudah tertawa sampai memegangi perutnya. Konon, setelah tertawa selama itu, perutnya pun terasa jauh lebih enak.

💖 Pesan Moral

  • Perintah yang mustahil bisa dijawab dengan akal. Kadang yang perlu diubah adalah cara kita mengartikan tugas tersebut.
  • Tertawa sering lebih manjur daripada ramuan tabib, terutama bila yang ditertawakan adalah kita sendiri.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Abu Nawas yang populer di Nusantara, salah satu versi. Tokoh ini diilhami penyair Baghdad Abu Nuwas, tetapi anekdot-anekdotnya adalah cerita rakyat.