Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Harga Sebuah Keajaiban

3 menit baca

Sewadah uang logam, seperti tabungan yang dibawa Tess ke apotek. Gambar: Billjones94 · CC BY-SA 4.0 · sumber

Tess baru berusia delapan tahun, tetapi telinganya tajam. Malam itu ia mendengar ayah dan ibunya berbicara pelan di dapur tentang adiknya, Andrew, yang sakit parah. Dokter bilang perlu operasi yang sangat mahal. Tabungan mereka sudah habis, dan rumah pun tak bisa dipertahankan lebih lama lagi.

“Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan dia,” bisik ayahnya dengan suara yang belum pernah Tess dengar.

Tess masuk ke kamar dan mengambil stoples dari tempat persembunyiannya. Ia menumpahkan semua uang logam di lantai dan menghitungnya tiga kali supaya tidak salah. Lalu ia memasukkannya kembali, menyelinap keluar lewat pintu belakang, dan berjalan ke apotek di ujung jalan.

Apoteker sedang asyik mengobrol dengan seorang lelaki berpakaian rapi. Tess berdiri di depan meja, menunggu. Tidak ada yang menoleh. Ia berdeham. Tetap tidak ada yang menoleh. Akhirnya ia mengetukkan sekeping uang ke kaca meja.

“Ada apa, Nak?” tanya si apoteker agak kesal. “Saya sedang bicara dengan adik saya. Sudah lama kami tidak bertemu.”

“Saya juga mau bicara soal adik saya,” jawab Tess. “Dia sakit sekali, dan saya mau membeli keajaiban.”

“Apa?”

“Namanya Andrew. Ada sesuatu yang tumbuh di kepalanya, dan Ayah bilang hanya keajaiban yang bisa menolong. Harga keajaiban berapa?”

Wajah si apoteker melunak. “Di sini tidak dijual keajaiban, Nak. Maaf, saya tidak bisa menolongmu.”

Tess tidak beranjak. “Saya punya uang. Kalau kurang, nanti saya cari lagi. Tolong sebutkan saja harganya.”

Lelaki berpakaian rapi itu membungkuk sampai sejajar dengan Tess. “Keajaiban seperti apa yang adikmu butuhkan?”

“Saya tidak tahu,” jawabnya, dan matanya mulai basah. “Saya hanya tahu dia sakit, dan kata Ibu dia harus dioperasi. Ayah tidak punya uang, jadi saya pakai uang saya sendiri.”

“Berapa uangmu?”

“Satu dolar sebelas sen,” bisik Tess. “Semuanya ada di sini. Tapi saya bisa cari lagi.”

Lelaki itu tersenyum. “Kebetulan sekali. Satu dolar sebelas sen, harganya pas untuk keajaiban bagi seorang adik.” Ia menerima stoples itu dengan satu tangan dan menggandeng Tess dengan tangan lainnya. “Antarkan saya ke rumahmu. Saya ingin bertemu adikmu dan orang tuamu.”

Lelaki itu ternyata seorang dokter bedah saraf. Ia mengoperasi Andrew tanpa memungut biaya, dan tidak lama kemudian anak itu pulang dalam keadaan sehat. Suatu malam, ibunya berkata pelan, “Operasi itu benar-benar keajaiban. Entah berapa biayanya kalau harus dibayar.”

Tess tersenyum sendiri. Ia tahu persis harganya.

💖 Pesan Moral

  • Lakukan yang bisa dilakukan, walau terlihat tak berarti. Uang receh itu tak mungkin membayar operasi, tetapi langkah Tess ke apotek mengubah segalanya.
  • Keberanian bertanya sering membuka pintu. Seandainya Tess pulang saat diabaikan, ia tak akan bertemu orang yang dibutuhkan keluarganya.
  • Kemampuan kita bisa menjadi jawaban doa orang lain. Ada kalanya kita yang berdiri di dekat meja apotek itu, dan yang perlu kita lakukan hanya menoleh.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah populer yang beredar anonim dalam beberapa versi dengan nama tokoh yang berbeda-beda. Ini salah satu versinya; kebenaran peristiwanya tidak pernah terbukti.