Pengecat Perahu
Perahu kayu di pantai, seperti perahu yang menunggu dicat dalam kisah ini. Gambar: PattayaPatrol · CC BY-SA 4.0 · sumber
Catnya sudah mengelupas di sana-sini, dan warna merahnya tinggal sisa. Karena itu, seorang pemilik perahu memanggil tukang cat untuk memoles perahunya yang tertambat di pantai. Mereka sepakat soal upah, lalu si pemilik pergi mengurus pekerjaannya sendiri.
Tukang cat itu mulai bekerja dengan kuasnya. Papan demi papan ia lapisi, pelan dan rata. Saat sampai di lambung bagian bawah, ia melihat sesuatu yang aneh: cat yang baru dioleskan merembes ke sebelah dalam.
Ia berjongkok dan meraba kayu itu. Ada lubang kecil di sana, nyaris tidak terlihat. Pemilik perahu tidak pernah menyebut soal lubang itu, dan perjanjian mereka hanya soal mengecat. Tak ada yang akan tahu kalau ia menutupnya dengan cat lalu pulang.
Namun tukang cat itu mengambil alatnya, menambal lubang tersebut sampai rapat, memastikan tambalannya kuat, baru kemudian melanjutkan pekerjaan. Ketika perahu selesai, ia menerima upah yang dijanjikan dan pulang tanpa menyebut-nyebut soal tambalan itu.
Keesokan harinya, pemilik perahu datang ke rumahnya sambil membawa selembar cek. Jumlahnya jauh lebih besar daripada upah mengecat.
“Bapak sudah membayar saya kemarin,” kata si tukang cat dengan bingung.
“Ini untuk lubang di perahu itu,” jawab sang pemilik.
“Oh, itu perkara kecil. Tidak sampai sejam mengerjakannya. Saya tidak pantas dibayar sebanyak ini.”
Pemilik perahu menggeleng. Suaranya sedikit bergetar saat ia bercerita. Sudah lama ia tahu perahu itu bocor, dan ia berniat memperbaikinya setelah dicat, tetapi kemudian lupa sama sekali. Ketika perahu itu kering dan terlihat seperti baru, anak-anaknya meminta izin membawanya melaut untuk memancing. Ia mengizinkan, sebab ia sedang tidak di rumah untuk berpikir panjang.
“Baru sore tadi saya teringat lubang itu,” katanya. “Saya lari ke pantai dengan lutut lemas, membayangkan anak-anak saya di tengah laut dengan perahu yang kemasukan air. Lalu saya melihat mereka pulang, tertawa-tawa, membawa ikan. Saya periksa lambung perahu itu, dan lubangnya sudah tertutup rapi.”
Ia meletakkan cek itu di tangan si tukang cat. “Bapak mengira hanya menambal sebuah lubang. Yang Bapak selamatkan adalah anak-anak saya. Uang ini masih terlalu sedikit.”
💖 Pesan Moral
- Kerjakan sedikit lebih dari yang diminta bila memang perlu. Isi kontrak tidak selalu mencakup semua yang benar.
- Pekerjaan kecil bisa berakibat besar. Kita jarang tahu siapa yang akan bergantung pada hasil tangan kita esok hari.
- Kejujuran paling teruji saat tidak ada yang melihat. Menutup lubang dengan cat lebih mudah, dan tak seorang pun akan menegurnya.
- Jangan menunda perbaikan yang sudah kita ketahui. Si pemilik perahu nyaris membayar kelupaannya dengan harga yang amat mahal.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari perumpamaan populer yang beredar dalam banyak versi; ini salah satu versinya, dan penulis aslinya tidak diketahui.