Perumpamaan Rakit
Rakit bambu di Sungai Cikaniki, Jawa Barat: berjasa untuk menyeberang, bukan untuk dipanggul pulang. Gambar: Arie Basuki · CC BY-SA 4.0 · sumber
Suatu ketika Sang Buddha berbicara kepada para bhikkhu tentang bagaimana seharusnya mereka memperlakukan ajaran yang telah mereka terima. Untuk menjelaskannya, ia menceritakan sebuah perumpamaan.
“Bayangkan seorang lelaki sedang menempuh perjalanan jauh,” kata Sang Buddha. “Di tengah jalan, ia tiba di tepi sebuah sungai yang besar dan deras. Tepi tempat ia berdiri penuh bahaya: ada binatang buas, ada perampok, dan ia merasa tidak aman. Sementara tepi seberang tampak aman dan tenteram.”
“Tetapi tidak ada perahu untuk menyeberang, dan tidak ada jembatan. Maka lelaki itu berpikir, ‘Aku akan mengumpulkan rumput, ranting, dahan, dan dedaunan, lalu mengikatnya menjadi sebuah rakit. Dengan rakit itu, sambil mendayung dengan tangan dan kakiku, aku akan menyeberang dengan selamat.'”
“Ia pun bekerja keras. Ia mengikat rakit itu kuat-kuat, mendorongnya ke air, lalu naik dan mendayung sekuat tenaga. Arus menariknya ke sana kemari, tetapi rakit itu bertahan. Akhirnya ia sampai di tepi seberang dengan selamat.”
“Setelah sampai, lelaki itu berpikir, ‘Rakit ini sungguh berjasa kepadaku. Tanpa rakit ini aku tidak akan bisa menyeberang. Karena itu, aku akan memanggulnya di atas kepalaku dan membawanya ke mana pun aku pergi.'”
Sang Buddha berhenti sejenak dan bertanya kepada para bhikkhu, “Bagaimana pendapat kalian? Apakah dengan berbuat begitu lelaki itu telah bertindak bijak terhadap rakitnya?”
“Tidak, Guru,” jawab para bhikkhu.
“Lalu apa yang seharusnya ia lakukan? Ia seharusnya berpikir, ‘Rakit ini sungguh berjasa kepadaku. Sekarang, biarlah kutarik ia ke darat atau kutambatkan di tepi air, lalu aku melanjutkan perjalanan.’ Dengan berbuat begitu, ia telah memperlakukan rakit itu dengan tepat.”
“Begitu pula,” lanjut Sang Buddha, “ajaran yang kuberikan adalah seperti rakit: untuk menyeberang, bukan untuk digenggam erat-erat. Setelah memahami perumpamaan ini, kalian hendaknya melepaskan bahkan hal-hal yang baik, apalagi hal-hal yang tidak baik.”
Perumpamaan ini sering dipahami jauh melampaui konteks keagamaannya. Banyak hal dalam hidup kita adalah “rakit”: cara kerja yang dulu berhasil, kebiasaan yang dulu menolong, bahkan pendapat yang dulu benar pada masanya. Semua itu layak dihargai. Tetapi bila kita bersikeras memanggulnya ke mana-mana, padahal sungainya sudah terlewati, rakit yang dulu menyelamatkan justru bisa menjadi beban.
💖 Pesan Moral
- Alat adalah alat, bukan tujuan. Hargai, gunakan, lalu lepaskan bila sudah tidak diperlukan.
- Yang dulu menolong kita belum tentu masih menolong sekarang. Beranilah menyesuaikan diri.
- Berterima kasih tidak sama dengan melekat; kita bisa menghormati masa lalu tanpa memanggulnya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari perumpamaan rakit dalam Alagaddupama Sutta (Majjhima Nikaya 22) di Kanon Pali Buddhis.