Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Kelinci di Bulan

3 menit baca

Kelinci bersiap mengorbankan diri, terpahat pada relief Jataka Candi Borobudur. Gambar: Anandajoti Bhikkhu · CC BY-SA 3.0 · sumber

Dahulu kala, di tepi sebuah hutan dekat kaki gunung, hidup empat sahabat: seekor kelinci, seekor monyet, seekor serigala, dan seekor berang-berang. Di antara mereka, kelinci dikenal paling bijak. Setiap sore ia mengingatkan teman-temannya untuk hidup jujur, tidak mencuri, dan suka berbagi.

Suatu hari, kelinci memandang bulan dan berkata, “Besok adalah hari suci. Pada hari seperti itu, marilah kita berpuasa dan memberi makan siapa pun yang datang meminta. Memberi pada hari suci adalah kebajikan yang besar.”

Keesokan paginya, keempat sahabat itu pergi mencari sesuatu untuk diberikan. Berang-berang menemukan beberapa ekor ikan yang tertinggal di tepi sungai. Serigala menemukan sepotong daging dan sebuah kendi susu di sebuah gubuk yang kosong. Monyet memanjat pohon dan memetik setandan mangga yang ranum. Masing-masing menyimpan temuannya dan menunggu tamu yang datang.

Kelinci keluar ke padang, tetapi ia hanya menemukan rumput. “Rumput tidak pantas diberikan kepada manusia,” pikirnya. “Jika ada orang lapar datang kepadaku, aku tidak punya apa-apa selain diriku sendiri. Maka diriku sendirilah yang akan kuberikan.”

Tekad yang tulus itu begitu kuat hingga terasa sampai ke kahyangan. Dewa Sakka ingin menguji kesungguhannya. Ia turun ke bumi dengan menyamar sebagai seorang brahmana tua yang lapar.

Brahmana itu mendatangi berang-berang, yang dengan senang hati menawarkan ikannya. Ia mendatangi serigala, yang menawarkan daging dan susu. Ia mendatangi monyet, yang menawarkan mangga. Kepada ketiganya ia berkata, “Terima kasih, nanti saja,” lalu berjalan menemui kelinci.

“Wahai kelinci, aku lapar. Adakah sesuatu yang bisa kau berikan?”

Mata kelinci berbinar. “Engkau datang tepat pada waktunya. Hari ini aku akan memberikan sesuatu yang belum pernah kuberikan. Kumpulkanlah kayu bakar dan nyalakan api. Aku akan melompat ke dalamnya, dan setelah tubuhku matang, makanlah aku.”

Brahmana itu menyalakan api. Kelinci menggoyang-goyangkan tubuhnya tiga kali, agar serangga kecil yang mungkin bersembunyi di bulunya tidak ikut terbakar. Lalu, dengan hati gembira, ia melompat ke tengah api.

Namun api itu terasa sejuk, bagaikan salju. Tidak sehelai pun bulunya hangus. Kelinci terheran-heran. Brahmana itu kemudian menampakkan wujud aslinya sebagai Dewa Sakka.

“Kelinci yang bijak, aku datang untuk mengujimu. Kebajikanmu tidak boleh dilupakan selama dunia ini ada.” Sakka lalu menggambar wujud seekor kelinci di permukaan bulan.

Sejak saat itu, kata orang, setiap kali bulan purnama bersinar terang, kita dapat melihat bayangan seekor kelinci di sana: pengingat tentang makhluk kecil yang rela memberikan segalanya.

💖 Pesan Moral

  • Nilai sebuah pemberian terletak pada ketulusannya, bukan pada besar kecilnya.
  • Bahkan dalam kekurangan, selalu ada yang bisa kita berikan: waktu, tenaga, perhatian, diri kita sendiri.
  • Kasih sayang sejati memperhatikan makhluk sekecil apa pun, seperti kelinci yang menyelamatkan serangga di bulunya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Sasa Jataka (Jataka no. 316) dalam tradisi Buddhis. Kisah kelinci yang mengorbankan diri ini juga dipahatkan pada relief Candi Borobudur dan menjadi asal-usul legenda “kelinci di bulan” di berbagai negeri Asia.