Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Shackleton dan Kapal Endurance

3 menit baca

Endurance yang remuk dalam jepitan es, difoto Frank Hurley, anggota ekspedisi. Gambar: Frank Hurley · Public domain · sumber

Banyak orang mengenal sebuah iklan lowongan yang katanya dipasang Ernest Shackleton, mencari orang untuk perjalanan berbahaya dengan gaji kecil dan peluang pulang yang tipis. Tidak ada catatan yang menunjukkan iklan itu pernah ada. Kisah aslinya tidak membutuhkan hiasan semacam itu.

Pada Agustus 1914 kapal Endurance berangkat dari Plymouth. Rencana Shackleton, penjelajah Inggris kelahiran Irlandia, ialah mendarat di Laut Weddell lalu berjalan melintasi Benua Antarktika lewat Kutub Selatan. Setelah singgah sebulan di stasiun perburuan paus Grytviken di Georgia Selatan, Endurance menuju selatan pada 5 Desember 1914.

Kapal itu tidak pernah mencapai daratan. Es di Laut Weddell menjepitnya, dan ia hanyut bersama bongkahan es sepanjang musim dingin Antarktika tahun 1915. Tekanan es perlahan menghancurkan lambungnya. Pada 27 Oktober 1915, dalam suhu di bawah minus 26 derajat Celsius, Shackleton memerintahkan semua orang meninggalkan kapal. Sebulan kemudian Endurance tenggelam. Ada 28 orang terdampar di atas es, jauh dari daratan.

Rencana melintasi benua dibuang. Tujuan baru hanya satu: membawa semua orang pulang hidup-hidup. Mereka berkemah di atas lapisan es yang terus hanyut, menamai salah satunya Kemah Kesabaran, dan tinggal di sana lebih dari tiga bulan. Hewan yang lemah terpaksa ditembak. Ketika seorang tukang kayu menolak bekerja, Shackleton harus meredakan ketegangan.

Pada 8 April 1916 lapisan es itu retak. Keesokan harinya mereka turun ke tiga sekoci. Setelah hari-hari yang sangat berat di laut penuh es, mereka mencapai Pulau Elephant, daratan pertama yang mereka injak sejak lama. Pulau itu sunyi, tak berpenghuni, dan jarang didatangi kapal.

Shackleton mengambil risiko yang nyaris gila. Bersama lima orang, termasuk navigator Frank Worsley dan Tom Crean, ia berangkat dengan sekoci James Caird sepanjang 6,9 meter pada 24 April 1916 untuk menyeberangi sekitar 1.300 kilometer lautan terganas di dunia menuju Georgia Selatan. Worsley harus menentukan posisi dengan sedikit kesempatan melihat matahari. Sekoci itu hampir hancur diterjang ombak terbesar yang pernah dilihat Shackleton, tetapi mereka mendarat di pantai selatan pulau.

Stasiun perburuan paus ada di sisi utara. Shackleton, Worsley, dan Crean menyeberangi pegunungan yang belum pernah dipetakan, tanpa peta, selama sekitar 36 jam. Pada pagi 20 Mei 1916 mereka mendengar peluit uap dari Stromness, suara pertama dari dunia manusia yang mereka dengar sejak lama. Sesudah beberapa kali gagal menembus es, Shackleton meminjam kapal tunda kecil Yelcho dari Angkatan Laut Cile. Pada 30 Agustus 1916 kapal itu tiba di Pulau Elephant, dan semua orang yang ditinggalkan bersama Frank Wild ditemukan selamat.

Tidak seorang pun dari awak Endurance meninggal, setelah hampir dua tahun. Kelompok pendukung ekspedisi di Laut Ross di sisi lain benua bernasib lebih buruk dan kehilangan beberapa anggotanya. Shackleton meninggal karena serangan jantung pada 5 Januari 1922 di Georgia Selatan, dalam ekspedisi berikutnya, dan dimakamkan di Grytviken. Bangkai Endurance ditemukan di dasar laut pada 2022.

💖 Pesan Moral

  • Tahu kapan mengganti tujuan adalah kepemimpinan. Ekspedisi itu gagal, tetapi tujuan barunya tercapai sepenuhnya.
  • Keselamatan tim lebih penting daripada ambisi pribadi. Shackleton melepas mimpinya begitu kapalnya hilang.
  • Janji harus ditepati sampai tuntas. Ia berkali-kali mencoba sampai orang-orangnya terjemput.

Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Ernest Shackleton dan Imperial Trans-Antarctic Expedition.