Habibie dan Retakan pada Sayap Pesawat
B.J. Habibie dalam potret resmi tahun 1998. Gambar: SETNEG-RI · Public domain · sumber
Dalam dunia penerbangan ada masalah yang tidak terlihat oleh penumpang. Setiap kali pesawat lepas landas dan mendarat, bagian-bagiannya menerima tekanan dan getaran berulang kali. Lama-kelamaan logam bisa retak di titik yang sulit dideteksi, dan retakan pada sayap bisa berujung pada kegagalan struktur saat terbang. Seorang insinyur asal Parepare ikut menjawab masalah itu, sampai rekan-rekannya di dunia ilmiah menjulukinya “Mr. Crack”.
Bacharuddin Jusuf Habibie lahir pada 25 Juni 1936. Ia anak keempat dari delapan bersaudara. Ayahnya, Alwi Abdul Jalil Habibie, seorang ahli pertanian, meninggal saat ia masih remaja. Pada 1954 ia sempat kuliah sekitar enam bulan di Institut Teknologi Bandung, lalu melanjutkan belajar teknik penerbangan di Jerman, di Technische Hochschule Aachen. Gelar Diplom-Ingenieur ia raih pada 1960.
Ia bertahan di Jerman sebagai asisten peneliti di bidang konstruksi ringan untuk menyiapkan gelar doktor. Pada 1962 ia pulang ke Indonesia selama tiga bulan untuk cuti sakit. Di sana ia bertemu lagi dengan Hasri Ainun, teman sekolahnya dahulu. Mereka menikah pada 12 Mei 1962 dan segera kembali ke Jerman, tempat putra pertama mereka lahir setahun kemudian. Pada 1965 ia menyelesaikan doktornya.
Tahun-tahun berikutnya ia bekerja di industri pesawat Jerman, mula-mula memimpin penelitian analisis struktur di Hamburger Flugzeugbau, lalu di Messerschmitt-Bölkow-Blohm di Hamburg, tempat ia ikut mengembangkan Airbus A300B. Namanya dikaitkan dengan teori perambatan retak. Teori itu membantu insinyur memperkirakan titik retakan pada komponen seperti sayap, sehingga potensinya bisa diketahui lebih awal. Pesawat menjadi lebih aman dan perawatannya lebih efisien. Pada 1974 ia naik ke jajaran manajemen perusahaan itu.
Pada tahun yang sama hidupnya berbelok. Ia kembali ke Indonesia dan mula-mula menjadi penasihat Ibnu Sutowo, pemimpin Pertamina. Dari sebuah divisi teknologi di sana kemudian lahir industri pesawat terbang nasional, yang mulai berjalan pada 1976 dengan Habibie sebagai pemimpinnya dan kelak bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Dua tahun kemudian ia diangkat menjadi Menteri Riset dan Teknologi, jabatan yang lama ia pegang.
Puncak mimpinya terjadi pada 10 Agustus 1995 di Bandara Husein Sastranegara, Bandung. Pesawat N250 Gatotkaca, rancangan IPTN, terbang perdana selama sekitar 55 menit dengan disaksikan Presiden Soeharto. Tanggal itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional.
Akhir ceritanya tidak semanis itu. Krisis ekonomi 1997 menghentikan program N250, dan pesawat itu kini menjadi koleksi museum di Yogyakarta. Habibie sendiri menjadi Presiden ketiga Indonesia setelah Soeharto mundur pada 21 Mei 1998, dalam masa jabatan yang singkat. Ia wafat pada 11 September 2019, dan tetap dikenang sebagai Bapak Teknologi Indonesia.
💖 Pesan Moral
- Keselamatan sering bergantung pada hal yang tak terlihat. Ribuan orang terbang lebih aman berkat pekerjaan yang tak pernah mereka saksikan.
- Keahlian yang dibangun jauh dari rumah tetap bisa pulang. Ilmu dari Jerman ia bawa kembali untuk membangun industri di negerinya sendiri.
- Mimpi besar bisa terhenti oleh keadaan, tetapi kemampuan yang sudah terbukti tak bisa dihapus krisis.
Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang B.J. Habibie. Sumber berbeda dalam beberapa rincian, seperti bulan kepulangannya pada 1974.