Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Sudirman Memimpin dari Atas Tandu

3 menit baca

Potret Panglima Besar Soedirman pada sampul buku kenang-kenangan untuknya. Gambar: Matsum Lubis for the Ministry of Information of Indonesia · Public domain · sumber

Pada akhir 1948 Jenderal Sudirman dirawat karena tuberkulosis, dan paru-paru kanannya dikempiskan untuk menahan penyebaran penyakit itu. Ia keluar dari rumah sakit pada 28 November 1948. Tiga minggu kemudian, pada 19 Desember 1948, Belanda menyerang ibu kota Republik di Yogyakarta.

Sudirman saat itu berusia 32 tahun. Ia lahir pada 24 Januari 1916 di Purbalingga, pernah menjadi guru lalu kepala sekolah dasar Muhammadiyah, dan masuk tentara lewat PETA pada masa Jepang. Ia terpilih sebagai panglima tentara Indonesia yang pertama. Murid-muridnya mengingatnya sebagai guru yang sabar, adil, dan suka menyelipkan humor.

Hari itu ia pulang ke rumah dinasnya, mengumpulkan dokumen penting, dan membakarnya agar tidak jatuh ke tangan Belanda. Bersama sekelompok kecil prajurit dan dokter pribadinya, ia meninggalkan kota ke arah selatan. Istrinya, Alfiah, dan anak-anak tetap di lingkungan Keraton. Dari Kretek ia mengirim orang menyusup ke kota yang sudah diduduki, antara lain untuk meminta perhiasan istrinya guna membiayai perang gerilya.

Karena tidak kuat berjalan jauh, ia ditandu. Di Ponorogo seorang kiai bernama Mahfuz memberinya tongkat, tetapi ia tetap harus diusung. Sebuah tandu yang dipakai dalam perjalanan dari Semanu ke Bedoyo di Gunungkidul pada Desember 1948 kini menjadi koleksi museum.

Perjalanan itu penuh kejadian yang hampir tak masuk akal. Di luar Trenggalek, rombongannya dihentikan prajurit TNI sendiri. Sudirman berpakaian sipil dan tidak dikenali, sementara para prajurit curiga melihat peta dan catatan militer yang dibawa rombongan itu. Ketika komandan mereka, Mayor Zainal Fanani, datang dan menyadari siapa yang ditahan, ia meminta maaf. Sudirman justru menyatakan para prajurit itu benar karena menjaga wilayahnya dengan cermat.

Belanda terus memburu. Untuk mengecoh mereka, Sudirman menukar pakaiannya dan menyerahkan baju lamanya kepada Letnan Dua Heru Kesser, yang wajahnya mirip dengannya. Kesser bergerak ke selatan bersama sepasukan besar, sementara Sudirman menunggu lalu melanjutkan perjalanan ke arah lain. Tipuan itu berhasil. Pada Januari 1949 rombongannya masih harus menerobos keluar dari Banyutuwo di tengah hujan lebat saat Belanda mendekat.

Di tengah kelelahan dan kekurangan makan, rombongan itu akhirnya sampai di Sobo, dukuh di daerah Pacitan, yang dijadikan markas. Dari tempat terpencil inilah ia terus berhubungan dengan para komandan, memakai radio bila daerahnya dianggap aman. Selama masa gerilya itu Belanda menyebarkan kabar bahwa ia sudah tertangkap dan TNI sudah hancur. Serangan besar ke Yogyakarta pada 1 Maret 1949 membantah kabar itu di mata dunia, walaupun siapa pencetus serangan tersebut masih diperdebatkan sejarawan.

Setelah Persetujuan Roem-Roijen, Belanda mulai mundur. Sukarno memanggil Sudirman pulang, tetapi ia menolak karena meragukan niat Belanda. Ia baru bersedia setelah menerima sepucuk surat, yang pengirimnya tidak disepakati sumber. Pada 10 Juli 1949 ia kembali ke Yogyakarta dan disambut ribuan orang, setelah kira-kira tujuh bulan bergerilya.

Tubuhnya tidak pernah pulih. Ia dirawat di Panti Rapih, lalu di sanatorium Pakem, dan pada Desember 1949 dipindahkan ke Magelang. Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949. Sudirman wafat di Magelang pada 29 Januari 1950, baru saja berusia 34 tahun, dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

💖 Pesan Moral

  • Kehadiran pemimpin punya kekuatan sendiri. Panglima yang sakit tetapi ada di tengah pasukan membuat kabar kekalahan sulit dipercaya.
  • Hargai orang yang bekerja benar, sekalipun kita sendiri yang tersandung olehnya. Sudirman membenarkan prajurit yang menahannya.
  • Keterbatasan fisik menyempitkan cara, tetapi tidak harus menyempitkan tujuan. Ia tak bisa berjalan jauh, namun tetap memimpin dari atas tandu.

Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Panglima Besar Jenderal Sudirman. Sumber berbeda mengenai tanggal tibanya di Sobo (18 Februari atau 1 April 1949) dan pengirim surat yang membuatnya kembali.