Khotbah Tiga Jumat
Ulu Camii, masjid besar di Akşehir, kota yang menjadi latar anekdot-anekdot Nasreddin Hoca. Gambar: Nabbegat · CC BY-SA 4.0 · sumber
Suatu hari Jumat di kota Akşehir, jemaah masjid besar sudah duduk rapi. Mereka diberi tahu bahwa khotbah hari itu akan disampaikan oleh Nasreddin Hoca. Ada yang senang, ada pula yang waswas, sebab dengan Hoca, tak ada yang tahu apa yang bakal terjadi.
Hoca naik ke mimbar, merapikan jubahnya, dan memandang hadirin dengan khidmat. Sesungguhnya ia sama sekali belum menyiapkan apa-apa.
“Wahai kaum Muslimin,” katanya dengan suara berat, “tahukah kalian apa yang akan saya sampaikan hari ini?”
Jemaah saling memandang. “Tidak, Hoca, kami tidak tahu,” jawab mereka serempak.
Hoca berhenti sejenak. Wajahnya berubah kecewa.
“Kalau kalian tidak tahu apa-apa tentang yang akan saya bicarakan, lalu apa gunanya saya berbicara?”
Ia turun dari mimbar dan pulang. Jemaah duduk terpaku, lalu berdiskusi sampai di pelataran. Ada yang merasa ditegur, ada yang merasa dikerjai.
Seminggu kemudian Hoca naik lagi. Kali ini jemaah sudah bersiap. Mereka tidak akan terkecoh dua kali.
“Wahai kaum Muslimin, tahukah kalian apa yang akan saya sampaikan hari ini?”
“Tahu, Hoca!” sahut mereka mantap. “Kami tahu!”
Hoca mengangguk pelan, seakan sangat terkesan.
“Bagus sekali. Kalau kalian semua sudah tahu, tak perlu saya mengatakannya lagi.”
Ia turun lagi dari mimbar dan pulang. Kali ini kebingungan jemaah bertambah dua kali lipat. Selama seminggu mereka membicarakannya di warung, di pasar, di tepi sumur. Beberapa orang tua akhirnya berkumpul dan menyusun rencana yang rapi. Jumat depan, separuh jemaah akan menjawab tidak tahu, dan separuhnya menjawab tahu. Hoca tak akan punya jalan keluar, dan mau tidak mau ia harus berkhotbah.
Jumat ketiga, masjid penuh sesak. Bahkan orang yang biasanya bersembunyi di belakang datang lebih awal. Semua orang ingin melihat bagaimana Hoca akhirnya terjebak.
Hoca menaiki mimbar dengan tenang.
“Wahai kaum Muslimin, tahukah kalian apa yang akan saya sampaikan hari ini?”
“Tidak!” seru separuh jemaah.
“Tahu!” seru separuh yang lain.
Jemaah menahan napas. Di barisan depan beberapa orang tua tersenyum, yakin rencana mereka berhasil. Hoca memandang ke sisi kiri, lalu ke sisi kanan. Wajahnya berseri-seri, seperti guru yang gembira melihat muridnya akhirnya maju.
“Bagus sekali,” katanya. “Kalau begitu, yang sudah tahu tolong beri tahu yang belum tahu.”
Lalu ia turun dari mimbar dan pulang untuk makan siang.
💖 Pesan Moral
- Ilmu menjadi lebih berguna bila dibagi. Yang tahu punya tugas kepada yang belum tahu, dan itu saran yang ternyata tidak buruk.
- Kalau Anda diminta bicara tanpa persiapan, beranilah tampil singkat. Tetapi jangan coba ini di depan atasan Anda.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot Nasreddin Hoca, Turki, yang berlatar kota Akşehir pada abad ke-13. Rincian dan jumlah Jumat berbeda-beda antarversi.