Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Mengapa Kamu Bukan Zusya?

3 menit baca

Potret seorang rabi tua karya Isidor Kaufmann, mengingatkan pada sosok guru Hasidim seperti Rabbi Zusya. Gambar: Isidor Kaufmann · Public domain · sumber

Rabbi Zusya dari Hanipol adalah guru Hasidim yang hidup di wilayah Ukraina sekarang pada abad ke-18. Ia terkenal karena kerendahan hatinya dan kesederhanaan hidupnya. Banyak orang datang kepadanya, dan tak sedikit yang merasa kurang berarti setelah melihat kesalehan guru-guru besar. Mereka lalu pulang dengan hati lebih ringan.

Ketika Rabbi Zusya sudah tua dan terbaring sakit, murid-muridnya datang menjenguk. Mereka mendapati gurunya sedang menangis. Air mata mengalir ke janggutnya yang putih, dan tubuhnya yang kurus gemetar.

Murid-muridnya terkejut. Bagi mereka, inilah orang yang sudah menghabiskan seluruh hidupnya untuk beribadah. Kalau orang seperti dia saja takut menghadapi kematian, apa kabar orang lain?

Mereka mendekat dan mencoba menghiburnya.

“Rabbi, kenapa engkau menangis? Bukankah engkau hampir sebijak Musa? Bukankah engkau hampir sebaik Abraham? Surga pasti memandangmu dengan kasih.”

Rabbi Zusya menggeleng perlahan. Ia mengusap matanya dan berkata:

“Bukan itu yang kutakutkan. Ketika aku menghadap Yang Mahakuasa nanti, Ia tidak akan bertanya kepadaku, ‘Zusya, mengapa kamu bukan Musa?’ Aku akan menjawab, ‘Karena Engkau tidak memberiku kebesaran jiwa Musa.’ Ia juga tidak akan bertanya, ‘Zusya, mengapa kamu bukan Abraham?’ Aku akan menjawab, ‘Karena Engkau tidak memberiku kebaikan hati Abraham.'”

Ia berhenti sebentar. Napasnya pendek-pendek. Para murid menahan napas, menunggu.

“Ia akan bertanya, ‘Zusya, mengapa kamu bukan Zusya?’ Dan apa yang akan kujawab?”

Kamar itu sunyi. Murid-muridnya sudah mendengarkan ratusan pelajaran dari gurunya, tentang kitab, tentang doa, dan tentang kebaikan. Mungkin inilah yang terakhir, dan isinya tidak bisa dibantah oleh siapa pun di ruangan itu.

Selama hidup kita diajari mengagumi orang-orang besar, dan itu baik. Kita membandingkan diri dengan mereka dan merasa kurang. Akan tetapi, lelaki tua di tempat tidur itu tidak sedang menangisi jarak antara dirinya dan Musa. Jarak itu memang dimiliki semua orang, dan tak akan ada yang menuntutnya. Yang ia takuti adalah jarak yang lebih dekat dan lebih sulit: jarak antara dirinya sebagaimana adanya dan dirinya sebagaimana seharusnya ia bisa menjadi.

Rabbi Zusya meninggal pada tahun 1800. Kata-kata itu terus dituturkan orang dari generasi ke generasi, dalam berbagai versi, dan masih sering dikutip sampai sekarang.

💖 Pesan Moral

  • Yang akan ditanyakan adalah bagianmu sendiri. Tak ada yang menuntutmu menjadi orang lain.
  • Membandingkan diri sering menjadi cara halus untuk menghindar. Lebih mudah merasa kalah dari tokoh besar daripada mengurus potensi sendiri.
  • Tanyakan pertanyaan Zusya selagi masih bisa menjawabnya. Apa yang hanya bisa dilakukan olehmu, dan belum kamu lakukan?

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah Hasidim tentang Rabbi Zusya dari Hanipol (wafat 1800), yang dituturkan turun-temurun dalam beberapa versi.