Kaguya-hime, Putri dari Bambu Bercahaya
Kakek pemotong bambu dan istrinya merawat Kaguya-hime, dalam lukisan kisah Taketori Monogatari. Gambar: Unknown author Unknown author · Public domain · sumber
Seorang kakek pemotong bambu masuk ke rumpun di kaki bukit, seperti yang ia lakukan setiap hari sepanjang hidupnya. Pagi itu ada yang lain. Sebatang bambu memancarkan cahaya dari dalam ruasnya. Dengan hati-hati ia memotongnya, dan di dalam ruas itu duduk seorang gadis mungil, tingginya tak lebih dari tiga jari.
Kakek itu membawanya pulang di telapak tangan. Ia dan istrinya tidak punya anak, sehingga gadis itu mereka rawat sebagai anak sendiri. Sejak hari itu, setiap kali memotong bambu, si kakek menemukan butiran emas di dalam ruasnya. Pondok reyot mereka perlahan berganti menjadi rumah yang layak.
Dalam tiga bulan, si mungil tumbuh menjadi gadis dewasa yang kecantikannya membuat rumah terasa terang walau malam. Orang menamainya Kaguya-hime, Putri Cahaya yang Bersinar.
Kabar itu menyebar sampai ke ibu kota. Lima bangsawan datang melamar dan menolak pulang. Kaguya-hime tidak ingin menikah, tetapi ia tidak mau mengecewakan orang tuanya. Maka ia memberi setiap pelamar satu tugas: membawa mangkuk batu milik Buddha, dahan permata dari Gunung Horai, jubah kulit tikus api yang tak bisa terbakar, permata dari leher naga, dan kerang keberuntungan dari sarang burung walet.
Tak seorang pun berhasil dengan jujur. Yang satu membawa mangkuk tua dari kuil biasa. Yang lain menyuruh perajin membuat dahan palsu, lalu terbongkar ketika para perajin datang menagih upah. Jubah yang dibanggakan pelamar ketiga hangus begitu disentuh api. Dua lainnya pulang dalam keadaan celaka dan malu.
Kaisar sendiri kemudian mendengar tentang gadis itu dan menulis surat kepadanya. Bertahun-tahun mereka berbalas puisi, tetapi Kaguya-hime tetap menolak masuk istana.
Suatu musim semi, ia mulai sering menatap bulan sambil menangis. Si kakek mendesaknya bercerita, dan akhirnya ia mengaku.
“Aku bukan orang bumi, Ayah. Aku berasal dari bulan. Pada malam purnama bulan kedelapan, mereka akan datang menjemputku.”
Kaisar mengirim dua ribu prajurit untuk berjaga di atap dan halaman. Namun malam itu, ketika rombongan dari bulan turun di atas awan, cahaya mereka membuat para prajurit lemas dan tak sanggup mengangkat busur.
Kaguya-hime menulis surat perpisahan dan menitipkan ramuan keabadian untuk Kaisar. Sebelum jubah bulu dari langit dikenakan pada tubuhnya, ia sempat berkata kepada orang tuanya bahwa ia ingin tinggal untuk merawat mereka di hari tua. Lalu jubah itu menyentuh pundaknya, dan seketika segala rasa sedih dan kenangannya tentang bumi lenyap. Ia naik bersama rombongan itu dan tidak menoleh lagi.
Kaisar membaca suratnya berulang kali. Hidup abadi tanpa dia terasa tidak berarti. Ia memerintahkan surat dan ramuan itu dibakar di puncak gunung yang paling dekat dengan langit. Konon asap dari gunung itu naik sampai berabad-abad kemudian, dan gunung itulah yang kini dikenal sebagai Fuji.
💖 Pesan Moral
- Kebohongan yang mewah tetap kebohongan. Para pelamar lebih sibuk memalsukan bukti daripada berusaha sungguh-sungguh, dan semua terbongkar.
- Kasih orang tua angkat sama dalamnya. Sang kakek dan nenek tidak pernah bertanya dari mana anak itu datang sebelum mencintainya.
- Harta dan keabadian tak bisa menggantikan orang yang kita sayangi. Kaisar memilih membakar ramuan yang bagi orang lain tak ternilai.
- Kenangan itu berharga, juga yang menyakitkan. Yang paling mengharukan dari kepergian sang putri justru saat ia kehilangan rasa sedihnya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Taketori Monogatari (Kisah Pemotong Bambu), karya sastra Jepang dari sekitar abad ke-9–10 yang penulisnya tidak diketahui.