Gudang Inspirasi Hidup
Humor

I Belog Membeli Bebek

3 menit baca

Bebek-bebek di pematang sawah di Ubud, Bali. Gambar: Jakub Hałun · CC BY-SA 4.0 · sumber

Di sebuah desa di Bali, seorang ibu tinggal bersama anak laki-lakinya. Nama anak itu I Belog, dan dalam bahasa Bali kata belog berarti bodoh. Ia anak yang baik dan penurut, tetapi semua yang ia dengar langsung ia telan bulat-bulat.

Suatu pagi, sang ibu membuka simpanan uangnya dan memanggil anak itu.

“Belog, hari ini pergilah ke pasar. Belilah seekor bebek. Ingat baik-baik: pilih yang besar dan berat. Jangan yang kurus, nanti rugi.”

“Besar dan berat,” ulang I Belog sambil mengangguk mantap.

Sepanjang jalan ke pasar, ia mengulang kata-kata itu supaya tidak lupa. Besar dan berat. Besar dan berat. Ia melewati sawah, melewati pura, melewati jembatan bambu di atas sungai, sampai tiba di tengah keramaian pasar.

Penjual bebek duduk di sudut dengan kandang-kandang bambunya. I Belog mendekat dengan serius.

“Bebek mana yang paling berat?”

Si penjual menunjuk seekor bebek gemuk, dan I Belog mengangkatnya dengan kedua tangan. Benar, berat sekali. Lehernya panjang, tubuhnya padat. Dengan gembira ia membayar dan menggendong bebek itu pulang. Ia sudah membayangkan wajah senang ibunya.

Dalam perjalanan pulang, ia sampai lagi di sungai dan berhenti sejenak. Airnya jernih. I Belog duduk di tepi, menaruh bebeknya di pangkuan, lalu mulai berpikir. Hal itu tidak sering ia lakukan, dan itulah masalahnya.

Bagaimana kalau bebek ini sebenarnya tidak berat? Mungkin saja penjual tadi menipunya. Ibu pasti marah kalau ia salah beli. Bagaimana cara memastikannya?

I Belog memandangi batu di sungai. Batu itu berat, dan batu tenggelam. Kemarin ia juga melihat kayu yang ringan mengapung di air. Wajahnya berseri. Tentu saja! Barang berat pasti tenggelam. Kalau bebek ini sungguh berat, ia akan langsung turun ke dasar sungai.

Dengan penuh keyakinan, ia mengangkat bebek itu dan melemparkannya ke tengah sungai.

Plung!

Bebek itu mengapung. Lalu ia menggoyangkan ekornya, mengepakkan sayap, dan dengan riang berenang mengikuti arus. Sesekali ia berbunyi, seolah-olah berterima kasih.

I Belog berdiri di tepi sungai dengan tangan di pinggang. Ia memandangi bebek yang makin menjauh itu dengan kecewa, lalu menggeleng-geleng dengan sedih.

“Sudah kuduga,” gumamnya. “Bebek ini ringan. Penjual itu benar-benar penipu!”

Ia pun pulang dengan tangan kosong, kesal pada penjual bebek, dan bangga karena ia cukup pintar untuk membongkar tipu daya itu.

💖 Pesan Moral

  • Jangan puas dengan satu ukuran. Bebek memang mengapung, dan semua orang tahu itu kecuali orang yang percaya diri pada ilmunya sendiri.
  • Orang yang tidak tahu masih bisa belajar. Yang sulit adalah orang yang merasa sudah membuktikannya, seperti I Belog di tepi sungai.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari satua (dongeng) Bali I Belog Meli Bebek, salah satu versi.