Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Baron Munchausen dan Kuda di Atas Menara

3 menit baca

Baron Munchausen menurut Gustave Doré, dengan semboyan jenaka Mendace Veritas, kebenaran dalam kebohongan. Gambar: Gustave Doré · Public domain · sumber

Baron Munchausen akan memberi tahu Anda dengan wajah serius bahwa cerita berikut ini benar seluruhnya. Ia juga akan menyebut siapa pun yang meragukannya sebagai orang yang kurang pengalaman bepergian. Maka mari kita dengarkan sang Baron dengan penuh hormat.

Ia berangkat dari Roma menuju Rusia tepat di tengah musim dingin. Alasannya, menurut dia, sangat masuk akal: jalan-jalan di Jerman utara, Polandia, dan sekitarnya terkenal buruk, dan salju tentu membuatnya lebih mulus. Ia menunggang kuda dan berpakaian tipis, sesuatu yang kemudian ia rasakan akibatnya.

Di sebuah padang tandus di Polandia ia melihat seorang lelaki tua tergeletak di tepi jalan, menggigil tanpa pakaian yang layak. Sang Baron, walaupun ikut kedinginan, melepas mantelnya dan menyelimuti orang tua itu. Seketika terdengar suara dari langit.

“Kelak engkau akan mendapat balasan, anakku.”

Sang Baron menganggap hal itu biasa saja dan meneruskan perjalanan.

Malam turun. Tak ada desa terlihat di mana pun. Seluruh negeri tertutup salju, dan ia tidak mengenal jalannya. Karena lelah, ia turun dari kuda. Ia melihat sesuatu seperti tunggul pohon runcing yang mencuat dari salju, lalu menambatkan kudanya di situ. Demi keamanan, pistol ia kepit di bawah lengan. Kemudian ia berbaring di atas salju dan tidur sangat nyenyak.

Ketika membuka mata, hari sudah terang. Ia terkejut bukan main. Ia sedang berbaring di halaman gereja, di tengah sebuah desa.

Kudanya tidak ada. Ia memandang berkeliling. Tiba-tiba terdengar ringkikan yang akrab, tetapi datangnya dari atas.

Sang Baron mendongak. Jauh di ketinggian, kudanya tergantung pada tali kekang, terikat di ayam-ayaman penunjuk angin di puncak menara gereja, berayun pelan di udara pagi.

Otak seorang bangsawan sejati bekerja cepat, dan ia segera memahami seluruh perkara. Semalam desa itu terkubur salju seluruhnya, sampai ke puncak menara. Dalam semalam cuaca berubah. Saljunya meleleh, dan ia turun pelan-pelan bersama permukaan salju sampai mendarat di halaman gereja dengan lembut, tanpa terbangun sama sekali. Tunggul pohon tempat ia menambatkan kuda itu ternyata ujung menara.

Orang lain mungkin akan mencari tangga atau memanggil penjaga gereja. Sang Baron tidak membuang waktu. Ia mengambil pistol, membidik, dan menembak putus tali kekang itu. Kudanya turun, dan ia melanjutkan perjalanan.

Bagaimana kuda itu mendarat dari ketinggian menara tanpa cedera? Sang Baron tidak menganggap pertanyaan itu layak dijawab. Yang ia sesali hanya satu hal: ia tak sempat memberi makan kuda yang sudah semalaman berpuasa di udara.

💖 Pesan Moral

  • Periksa dulu tempat kita menambatkan sesuatu. Yang tampak seperti tunggul bisa jadi ujung sesuatu yang jauh lebih besar.
  • Kalau mau berbohong, berbohonglah dengan wajah serius dan rincian yang lengkap. Tetapi bersiaplah, nama Anda bisa dijadikan julukan pembual selama dua ratus tahun.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah Baron Munchausen karya Rudolf Erich Raspe (terbit 1785, mula-mula tanpa nama), bab pembuka perjalanan ke Rusia.