Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Raja Midas dan Sentuhan Emas

3 menit baca

Ilustrasi Walter Crane untuk versi Nathaniel Hawthorne, yang menambahkan tokoh putri Midas. Dalam Ovidius, tokoh itu tidak ada. Gambar: Walter Crane · Public domain · sumber

Silenus, pengasuh tua dewa Bacchus, tersesat. Ia sudah terhuyung karena usia dan anggur ketika para petani Frigia menemukannya, mengikatnya dengan untaian bunga, dan menyeretnya ke hadapan Raja Midas.

Midas mengenali tamu itu. Ia pernah diajari upacara Bacchus, maka ia menjamu Silenus dengan pesta sepuluh hari sepuluh malam. Pada hari kesebelas ia mengantarkan orang tua itu ke Lidia, kepada Bacchus.

Dewa muda itu gembira, dan ia mempersilakan Midas meminta apa saja. Sebuah tawaran emas, dan Midas tidak banyak berpikir.

“Jadikanlah apa pun yang kusentuh berubah menjadi emas.”

Bacchus mengabulkannya, walau menyayangkan bahwa sang raja tidak meminta yang lebih baik.

Midas pulang dengan wajah berseri. Ia tak sabar mencoba. Dipatahkannya ranting dari pohon rendah, dan ranting itu berkilau. Dipungutnya sebutir batu, dan batu itu menjadi emas. Segumpal tanah, setangkai gandum, sebutir apel, semuanya berubah di tangannya. Ia menyentuh tiang rumahnya, dan tiang itu bersinar. Ketika mencuci tangan, air yang mengalir jatuh bagai hujan emas. Ia hampir tak mampu menampung kebahagiaannya.

Para pelayan menghidangkan makan malam yang mewah. Midas mengambil roti, dan roti itu mengeras di jarinya. Ia menggigit daging, dan yang menyentuh giginya adalah logam kuning. Ia mencampur anggur dengan air, dan cairan emas meleleh di bibirnya.

Raja itu terduduk. Ia kaya seperti tak pernah ada raja sekaya itu, dan ia kelaparan. Tenggorokannya terbakar haus di tengah harta yang tak bisa diminum. Kini ia membenci hal yang tadi siang ia dambakan.

Ia mengangkat kedua lengannya yang berkilau ke langit. “Ampuni aku, Bapa Bacchus! Aku telah berdosa. Kasihanilah aku, bebaskan aku dari bencana yang tampak indah ini.”

Para dewa suka memberi maaf kepada orang yang mengakui kesalahannya. Bacchus mencabut anugerah itu, tetapi noda keserakahan harus dibasuh. Ia menyuruh Midas pergi ke sungai yang mengalir dekat kota Sardis, menyusurinya ke hulu sampai ke mata airnya, lalu membenamkan kepala dan tubuhnya di tempat air paling deras memancar.

Midas menurut. Kekuatan emas itu berpindah dari tubuhnya ke dalam air. Sampai kini, kata Ovidius, ladang di sepanjang sungai Paktolos masih mengandung urat emas, dan pasirnya berkilau.

Sejak itu Midas membenci kekayaan. Ia meninggalkan istana dan tinggal di hutan serta gua-gua, memuja dewa Pan. Ia telah kenyang oleh satu pelajaran, walau Ovidius menambahkan dengan nakal bahwa kebodohannya belum sepenuhnya hilang. Beberapa waktu kemudian, karena salah menilai lomba musik, ia dihadiahi telinga keledai oleh Apollo. Tetapi itu cerita lain.

💖 Pesan Moral

  • Hati-hati dengan keinginan yang terkabul sepenuhnya. Midas mendapat persis apa yang ia minta, dan itulah masalahnya.
  • Emas hanya alat. Sepotong roti bisa lebih berharga daripada seisi perbendaharaan.
  • Pikirkan akibat sebelum meminta. Satu kalimat terburu-buru bisa merusak hal-hal sederhana yang selama ini kita nikmati.
  • Mengakui kesalahan membuka jalan keluar. Pemulihan Midas dimulai dari doa yang jujur.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Metamorfosis karya Ovidius, Buku XI. Kisah putri Midas yang ikut menjadi emas merupakan tambahan penulis kemudian dan tidak ada dalam Ovidius.