Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Raksasa yang Egois

4 menit baca

Sang Raksasa mengangkat anak kecil ke atas pohon, ilustrasi Walter Crane untuk edisi pertama 1888. Gambar: Crane, Walter, 1845-1915 · Public domain · sumber

Sepulang sekolah, anak-anak selalu bermain di taman sang Raksasa. Rumputnya lembut, ada dua belas pohon persik yang berbunga di musim semi, dan burung-burung bernyanyi sampai anak-anak berhenti bermain untuk mendengarkan.

Suatu hari pemilik taman itu pulang. Ia sudah tujuh tahun menginap di rumah temannya, seorang raksasa dari Cornwall, sampai habis semua bahan obrolan. Melihat anak-anak di tamannya, ia membentak dengan suara parau, dan mereka lari ketakutan.

“Tamanku adalah tamanku,” katanya. “Tak boleh ada yang bermain di sini selain aku.”

Ia membangun tembok tinggi dan memasang papan: DILARANG MASUK, PELANGGAR AKAN DITUNTUT. Anak-anak kini bermain di jalan berdebu, lalu berputar-putar di luar tembok sambil mengenang taman itu.

Musim semi tiba di seluruh negeri, kecuali di taman sang Raksasa. Burung-burung enggan bernyanyi karena tak ada anak-anak, dan pohon-pohon lupa berbunga. Sekuntum bunga sempat menjulurkan kepala, tetapi begitu membaca papan itu, ia kasihan kepada anak-anak dan tidur lagi. Hanya Salju dan Es yang gembira. Mereka mengundang Angin Utara dan Hujan Es, dan keempatnya berpesta di sana sepanjang tahun. Musim panas tidak datang. Musim gugur membagikan buah emas ke semua kebun, kecuali satu. “Dia terlalu egois,” katanya.

“Aku tak mengerti mengapa musim semi terlambat,” gumam sang Raksasa di jendela.

Suatu pagi ia terbangun oleh musik merdu. Ternyata hanya seekor burung kecil, tetapi sudah lama sekali tak terdengar kicauan di tamannya. Hujan Es berhenti menari, dan harum bunga masuk lewat jendela. Ia melompat dari tempat tidur.

Anak-anak telah merangkak masuk lewat lubang kecil di tembok. Mereka duduk di dahan-dahan, dan pohon-pohon begitu senang sehingga langsung berbunga. Hanya di satu sudut terjauh masih musim dingin. Di sana seorang anak lelaki kecil berputar-putar mengelilingi sebatang pohon sambil menangis, karena terlalu kecil untuk memanjat. Pohon itu sudah merunduk sebisanya, tetapi tetap tak terjangkau.

Hati sang Raksasa luluh. “Betapa egoisnya aku! Sekarang aku tahu mengapa musim semi tak mau datang.”

Ia turun pelan-pelan dan membuka pintu. Anak-anak yang melihatnya lari ketakutan, dan taman kembali membeku. Hanya si kecil tidak lari, karena matanya penuh air mata. Sang Raksasa mengangkatnya dengan lembut ke atas pohon. Pohon itu seketika berbunga, dan anak itu memeluk leher sang Raksasa dan menciumnya. Melihat itu, anak-anak lain berlarian kembali, dan bersama mereka datanglah musim semi.

“Ini taman kalian sekarang,” kata sang Raksasa. Ia mengambil kapak dan merobohkan tembok itu.

Sejak itu ia bermain bersama anak-anak setiap hari. Tetapi anak kecil itu tak pernah kembali, padahal dialah yang paling ia sayangi. Tak seorang pun tahu tempat tinggalnya. Bertahun-tahun berlalu. Sang Raksasa menjadi tua dan lemah, lalu hanya duduk di kursi besar memandangi taman. “Aku punya banyak bunga indah,” katanya, “tetapi anak-anak adalah bunga yang paling indah.”

Pada suatu pagi musim dingin ia melihat keajaiban. Di sudut terjauh, sebatang pohon tertutup bunga putih, dahannya keemasan, buahnya seperti perak, dan di bawahnya berdiri anak yang ia rindukan.

Ia berlari turun, tetapi wajahnya memerah marah ketika sudah dekat. Di kedua telapak tangan dan kaki anak itu ada bekas dua paku.

“Siapa yang berani melukaimu? Katakan, akan kubunuh dia dengan pedangku!”

“Jangan,” jawab si anak. “Ini adalah luka-luka kasih.”

“Siapakah engkau?” tanya sang Raksasa, lalu ia berlutut, gentar.

Anak itu tersenyum. “Dulu kamu pernah mengizinkan aku bermain di tamanmu. Hari ini kamu akan ikut aku ke tamanku, yaitu Firdaus.”

Sore itu, ketika anak-anak datang, mereka menemukan sang Raksasa terbaring tak bernyawa di bawah pohon, tubuhnya tertutup bunga-bunga putih.

💖 Pesan Moral

  • Yang kita tahan untuk diri sendiri bisa kehilangan nilainya. Taman itu baru hidup ketika pintunya terbuka.
  • Tembok yang kita bangun juga mengurung kita. Musim dingin sang Raksasa ia ciptakan sendiri.
  • Perhatikan yang paling kecil dan tertinggal. Satu pertolongan kepada anak yang tak sampai ke dahan mengubah seluruh hidupnya.
  • Tidak ada kata terlambat untuk berubah. Merobohkan tembok tetap berarti meski dilakukan setelah bertahun-tahun.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng Oscar Wilde, “Raksasa yang Egois”, dalam kumpulan The Happy Prince and Other Tales (1888). Akhir ceritanya memuat lambang Kristiani sebagaimana aslinya.