Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Gadis Angsa

4 menit baca

Ilustrasi Walter Crane: angin membawa topi Conrad, sementara kepala Falada mengawasi dari gerbang. Gambar: Internet Archive Book Images · Public domain (no known copyright restrictions) · sumber

Seorang ratu tua yang sudah lama menjanda punya seorang putri cantik yang telah dijodohkan dengan pangeran dari negeri jauh. Ketika tiba waktunya berangkat, sang ratu membekali putrinya dengan emas, perak, dan permata, serta seorang pelayan untuk mendampinginya. Sang putri menunggang Falada, seekor kuda yang bisa berbicara.

Saat berpisah, ratu mengiris jarinya, meneteskan tiga tetes darah pada sehelai sapu tangan putih, dan memberikannya kepada putrinya.

“Simpan baik-baik, Nak. Ini akan melindungimu di perjalanan.”

Tak lama setelah berangkat, sang putri merasa haus dan meminta pelayannya mengambilkan air dengan cawan emas.

“Kalau haus, turun dan minum sendiri,” jawab pelayan itu. “Aku tak mau lagi menjadi pelayanmu.”

Sang putri turun dan minum dari sungai sambil menangis. Tiga tetes darah itu berbisik, “Andai ibumu tahu, hatinya akan hancur.” Hal itu terulang di sungai berikutnya, tetapi kali ini sapu tangan itu jatuh dari dadanya dan hanyut tanpa ia sadari. Pelayan itu melihatnya dan bersorak dalam hati. Sang putri kini lemah dan tak berdaya.

Si pelayan memaksa sang putri bertukar kuda, lalu bertukar pakaian, dan mengancam akan membunuhnya kalau ia tak bersumpah di bawah langit untuk tidak menceritakannya kepada siapa pun. Falada melihat semuanya.

Di istana, pangeran menyambut pelayan itu sebagai pengantinnya, sementara putri sejati dibiarkan berdiri di halaman. Raja tua melihatnya dari jendela dan terpesona oleh keanggunannya. Ia bertanya siapa gadis itu.

“Hanya kawan perjalanan,” kata si pengantin palsu. “Beri saja dia pekerjaan.”

Maka sang putri ditugaskan membantu Conrad, anak laki-laki penggembala angsa.

Si pengantin palsu takut Falada akan membongkar rahasianya, jadi ia meminta agar kepala kuda itu dipenggal. Putri sejati mendengar kabar itu. Ia membayar si penjagal dengan sekeping emas agar kepala Falada dipakukan di gerbang gelap yang setiap hari ia lewati.

Setiap pagi, ketika menggiring angsa melewati gerbang itu, ia berkata, “Oh Falada, engkau tergantung di sana.” Dan kepala itu menjawab, “Oh putri, nasibmu begitu malang. Andai ibumu tahu, hatinya akan hancur.”

Di padang, ia melepaskan rambutnya yang berkilau seperti emas murni. Conrad ingin mencabut beberapa helai, tetapi ia melantunkan mantra, dan angin bertiup membawa topi Conrad jauh-jauh. Saat Conrad kembali, rambutnya sudah tertata rapi.

Conrad mengadu kepada raja tua. Esoknya raja bersembunyi di balik gerbang dan di semak-semak, lalu melihat dan mendengar semuanya sendiri. Malam itu ia memanggil gadis itu dan bertanya, tetapi gadis itu berkata ia terikat sumpah.

“Kalau tak bisa bercerita kepadaku, ceritakan saja pada tungku besi itu,” kata raja, lalu keluar.

Gadis itu merangkak ke dalam tungku dan menumpahkan seluruh kesedihannya: bahwa ia putri raja, bahwa seorang pelayan telah merebut tempatnya. Raja tua mendengar semuanya dari pipa tungku di luar.

Raja pun menyuruh gadis itu keluar dan mengenakan pakaian kerajaan, dan semua orang takjub melihat kecantikannya. Pangeran bersukacita ketika diberi tahu yang sebenarnya.

Pesta besar diadakan. Si pengantin palsu tidak mengenali putri sejati yang duduk di dekatnya. Raja tua lalu mengajukan teka-teki: hukuman apa yang pantas bagi orang yang berbuat begini dan begini kepada tuannya? Ia menceritakan seluruh kisah itu tanpa menyebut nama. Si pengantin palsu dengan yakin menyebutkan hukuman yang sangat kejam.

“Itulah dirimu,” kata raja tua. “Kau telah menjatuhkan hukuman atas dirimu sendiri.”

Setelah itu pangeran menikahi pengantinnya yang sejati, dan mereka memerintah negeri itu dalam damai dan bahagia.

💖 Pesan Moral

  • Kedudukan bisa dirampas, watak tidak. Pakaian pelayan tak bisa menyembunyikan keanggunan sang putri.
  • Kebenaran mencari jalan keluar sendiri. Sumpah sang putri tidak dilanggar, tetapi kebenaran tetap terdengar lewat pipa tungku.
  • Beban yang berat perlu dicurahkan. Berbicara kepada tungku pun lebih baik daripada menyimpannya sendirian.
  • Orang yang cepat menghukum sering sedang menghukum dirinya sendiri.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng Grimm Bersaudara “Die Gänsemagd” (Kinder- und Hausmärchen no. 89). Rincian hukuman dalam teks asli yang sangat keras sengaja tidak disebutkan.