Perut dan Anggota Tubuh
Tubuh yang lemas setelah tangan dan kaki mogok memberi makan perut. Gambar: Joseph Jacobs / Richard Heighway · Public domain · sumber
Pada suatu masa, anggota-anggota tubuh manusia pernah saling bicara, dan pembicaraan itu berubah menjadi perkara besar.
Mulanya tangan yang mengeluh. Seharian ia mengangkat, mencangkul, dan memasak, sampai telapaknya kapalan. Kaki segera menyambung. Ia berjalan ke pasar dan ke ladang, memikul seluruh beban tubuh, tanpa pernah diberi kesempatan duduk paling depan. Mata berkata bahwa ia terus bekerja sejak fajar. Gigi mengingatkan bahwa dialah yang mengunyah semua makanan keras. Mulut dan tenggorokan pun mengiyakan.
Lalu semua menoleh ke arah yang sama, yaitu perut.
Perut sedang tenang. Ia tidak bergerak dan tidak mengangkat apa pun. Ia menerima saja semua yang dikirimkan kepadanya.
“Lihat dia,” kata tangan dengan geram. “Kita semua bekerja keras seperti budak. Dia hanya berbaring di tengah-tengah dan menunggu dilayani.”
“Kami sudah cukup melayanimu,” kata kaki kepada perut. “Mulai hari ini, urus dirimu sendiri.”
Perut mencoba mengatakan sesuatu, tetapi mereka tidak mau mendengar. Kesepakatan dibuat dengan cepat. Tangan tidak akan mengambil makanan. Mulut tidak akan menerimanya. Gigi tidak akan mengunyah. Biar saja perut itu tahu rasa.
Hari pertama, mereka merasa puas. Tangan berbaring tanpa kerja, gigi beristirahat, dan perut mulai berbunyi keroncongan. Mereka tertawa mendengarnya.
Hari kedua, tangan merasa agak gemetar. Ia mengira itu karena terlalu lama menganggur.
Hari ketiga, kaki sulit diangkat. Lututnya goyah, langkahnya pendek-pendek. Mata mulai berkunang-kunang. Mulut terasa kering dan pahit. Tak ada yang tertawa lagi.
Beberapa hari kemudian seluruh tubuh tergeletak lemas. Tangan tak mampu mengepal, kaki tak mampu berdiri, dan kepala terasa berat. Barulah mereka paham apa yang selama ini tidak terlihat. Apa pun yang masuk ke perut tidak berhenti di sana. Dari situlah tenaga mengalir ke tangan yang mengangkat dan kaki yang berjalan. Perut yang tampak diam itu ternyata sedang membagi hasil kerja semua anggota kepada mereka semua.
“Kita keliru,” bisik tangan.
Namun dalam fabel ini, penyesalan itu datang terlambat. Ketika mereka hendak kembali bekerja, seluruh tubuh sudah terlalu lemah untuk bangkit.
💖 Pesan Moral
- Pekerjaan yang tidak terlihat belum tentu tidak penting. Sebelum menilai seseorang tidak berguna, cari tahu apa yang terjadi bila ia berhenti.
- Dalam satu tim, merugikan satu bagian berarti merugikan semuanya. Mogok melawan rekan sendiri sering kembali menimpa pelakunya.
- Dengarkan sebelum menghukum. Perut mau menjelaskan, tetapi tak ada yang memberi kesempatan.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi fabel Aesop “The Belly and the Members” (Indeks Perry 130). Sejarawan Romawi Livius mencatat fabel ini pernah dipakai Menenius Agrippa untuk membujuk rakyat Roma pada masa pemisahan diri kaum plebeian.