Singa dan Nyamuk
Nyamuk yang baru saja mengalahkan singa terjerat di jaring laba-laba. Gambar: Aesop · Public domain · sumber
Singa itu sedang berbaring di bawah bayangan pohon ketika seekor nyamuk berdengung di depan hidungnya. Ia mengibaskan ekor tanpa membuka mata. Nyamuk itu tidak pergi. Sebaliknya, ia hinggap di atas sehelai rumput dan berbicara dengan suara tipis yang sangat percaya diri.
“Aku sama sekali tidak takut padamu, Raja Hutan.”
Singa membuka sebelah matanya.
“Bahkan menurutku kau tidak lebih kuat daripada aku,” lanjut nyamuk. “Apa sih kekuatanmu? Mencakar dengan kuku dan menggigit dengan gigi. Begitu saja. Aku jauh lebih hebat. Kalau tidak percaya, mari kita bertarung dan lihat siapa yang menang.”
Tanpa menunggu jawaban, nyamuk itu meniup sangkakalanya yang kecil, berdengung nyaring, dan langsung menyerbu. Ia mengincar bagian yang tak terlindung surai, yaitu hidung dan kulit tipis di sekitar mata. Ia menusuk, terbang, lalu menusuk lagi.
Singa meraung. Ia menggeram dan mengayunkan cakarnya ke wajah sendiri, tetapi nyamuk sudah pindah ke tempat lain. Ia mencakar lagi, dan lagi. Cakar yang mampu merobohkan kerbau itu kini mengoyak hidungnya sendiri sampai berdarah. Semakin marah, semakin parah lukanya.
Akhirnya singa itu menyerah. Ia terduduk terengah-engah, wajahnya perih dan kepalanya pening. Sang penguasa hutan telah dikalahkan oleh serangga yang beratnya tak seberapa.
Nyamuk terbang berputar-putar di udara, menyanyikan lagu kemenangan. Ia merasa dadanya hampir meledak oleh rasa bangga.
“Aku mengalahkan singa!” teriaknya kepada pepohonan. “Aku! Siapa lagi yang berani melawanku?”
Sambil bernyanyi begitu, ia tidak memperhatikan ke mana ia terbang. Tiba-tiba sesuatu yang lengket menahan sayapnya. Ia meronta, tetapi kakinya malah ikut tersangkut. Benang-benang halus yang nyaris tak terlihat itu bergetar, dan dari tengah jaring seekor laba-laba mulai berjalan mendekat dengan tenang.
Nyamuk itu mengerti apa yang akan terjadi. Lagu kemenangannya berubah menjadi ratapan.
“Celaka benar aku. Aku telah menaklukkan binatang yang paling besar, dan kini aku binasa oleh laba-laba, serangga yang remeh ini.”
Laba-laba itu tidak tahu apa-apa soal singa, dan ia tidak peduli. Baginya, hari itu hanya ada seekor nyamuk.
💖 Pesan Moral
- Kemenangan besar sering membuat lengah. Bahaya berikutnya biasanya datang saat kita sedang merayakan.
- Yang kecil bisa mengalahkan yang besar, dan yang lebih kecil lagi bisa mengalahkan pemenangnya.
- Amarah melukai pemiliknya. Sebagian besar luka singa berasal dari cakarnya sendiri.
- Kalau baru saja menang melawan singa, perhatikan jalan. Sarang laba-laba tidak membaca berita.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop “The Gnat and the Lion”.