Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Merak dan Juno

2 menit baca

Merak dan Juno, sang dewi yang menjadi tempatnya mengadu dalam fabel ini. Gambar: Joseph Jacobs / Richard Heighway · Public domain · sumber

Tidak ada burung di taman itu yang seindah merak. Lehernya berkilau seperti batu zamrud, dan bila ekornya dibentangkan, ratusan mata berwarna biru keemasan seakan menatap balik orang yang memandangnya. Semua makhluk menoleh setiap kali ia lewat.

Namun merak itu tidak bahagia, karena ada burung bulbul.

Setiap senja, bulbul kecil yang berbulu cokelat kusam itu hinggap di dahan dan mulai bernyanyi. Seluruh taman menjadi hening. Para tukang kebun meletakkan sekop mereka. Dan merak, yang berdiri di bawah dengan segala keindahannya, tak lagi diperhatikan siapa pun.

Suatu sore ia mencoba bernyanyi juga. Ia membuka paruhnya, dan keluarlah suara serak yang melengking seperti pintu berkarat. Beberapa burung tertawa. Seekor burung pipit sampai jatuh dari rantingnya.

Dengan hati panas, merak pergi menghadap Juno, ratu para dewa dalam kisah bangsa Romawi, yang menurut cerita menyayanginya.

“Dewi, ini tidak adil,” keluhnya. “Bulbul bernyanyi dan seluruh dunia mendengarkan. Aku baru membuka mulut, semua orang tertawa.”

Juno memandangnya dengan sabar.

“Memang kau tidak bisa bernyanyi. Tetapi lihatlah dirimu. Lehermu seperti zamrud, ekormu adalah keajaiban warna. Tak ada burung yang bisa menyamaimu.”

“Apa gunanya indah tetapi bisu?” sahut merak. “Apa gunanya semua warna ini kalau suaraku saja menjadi bahan tertawaan?”

Kesabaran Juno mulai menipis. Suaranya tetap tenang, tetapi kini ada ketegasan di dalamnya.

“Dengarlah. Setiap makhluk sudah mendapat bagiannya masing-masing. Kepadamu diberikan keindahan. Kepada rajawali, kekuatan. Kepada bulbul, nyanyian. Kepada burung raven, pertanda baik, dan kepada burung gagak, pertanda buruk. Mereka semua puas dengan yang mereka miliki. Hanya kau yang menggerutu.”

Merak menundukkan lehernya yang berkilau.

“Berhentilah mengeluh,” kata sang dewi. “Kalau keinginanmu hari ini dikabulkan, besok kau akan menemukan hal lain yang membuatmu tidak puas.”

Merak pulang ke taman tanpa berkata apa-apa. Senja itu bulbul kembali bernyanyi. Merak berdiri di bawah dahan, dan untuk pertama kalinya ia mencoba mendengarkan.

💖 Pesan Moral

  • Kelebihan yang kita miliki mudah terasa biasa. Yang tampak besar justru hal yang dimiliki orang lain.
  • Membandingkan diri tidak ada ujungnya. Keinginan yang terpenuhi hari ini biasanya melahirkan keluhan baru besok.
  • Kekurangan yang ditertawakan orang tidak menghapus kelebihanmu. Merak tetap burung terindah, sekalipun suaranya serak.
  • Kekaguman pada orang lain bisa dinikmati tanpa rasa iri. Nyanyian bulbul tidak mengambil apa pun dari bulu merak.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop “The Peacock and Juno”. Juno adalah dewi dalam mitologi Romawi; tokoh ini dipertahankan sesuai sumbernya.