Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Yared dan Ulat di Pohon

3 menit baca

Santo Yared di hadapan raja dalam lukisan Ethiopia. Gambar: Unknown author Unknown author · Public domain · sumber

Gereja Ortodoks Ethiopia mengenang seorang santo yang masa kecilnya sama sekali tidak menjanjikan. Namanya Yared, dan ia hidup di Aksum pada abad keenam. Ayahnya meninggal ketika ia berumur tujuh tahun. Ibunya lalu menyerahkannya kepada pamannya, Gideon, seorang imam, supaya ia diasuh dan diajar ilmu agama.

Sang paman adalah guru yang terpelajar, tetapi muridnya yang satu ini tidak bisa mengikuti pelajaran. Yared kecil sulit memahami apa yang diajarkan kepadanya. Hari-hari belajar berlalu, sedangkan teman-temannya maju terus. Ia makin tertinggal dan makin putus asa, dan hubungannya dengan sang paman pun menjadi tegang.

Tradisi menuturkan bahwa suatu hari ia tak tahan lagi. Ia melarikan diri dari rumah pamannya, mencari kebebasan dari semua pelajaran yang tak bisa ia kuasai.

Berjalan jauh membuatnya lelah. Ia berhenti di bawah sebatang pohon dan duduk bersandar di keteduhannya. Di sanalah ia melihat sesuatu yang sangat kecil.

Seekor ulat sedang berusaha memanjat batang pohon. Yared memperhatikannya tanpa banyak berpikir. Ulat itu merayap naik sedikit demi sedikit, lalu jatuh. Ia memulai lagi dari bawah, dan jatuh lagi. Sekali lagi, dan jatuh lagi.

Anak itu mulai menghitung. Ia lupa pada rasa lelahnya. Ulat itu sudah gagal berkali-kali, tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan berhenti. Ia tidak marah pada pohon itu dan tidak kabur. Ia hanya kembali ke bawah dan naik lagi. Setelah berusaha sampai enam kali, ulat kecil itu akhirnya tiba di puncak.

Yared duduk tertegun. Makhluk yang hampir tak terlihat itu baru saja melakukan sesuatu yang tidak sanggup ia lakukan. Dalam kisah yang dituturkan Gereja, ia menangkap peristiwa itu sebagai pesan dari Tuhan bagi dirinya. Ia bangkit, berbalik, dan berjalan pulang.

Sesampai di rumah pamannya, ia meminta maaf, lalu memulai pelajarannya dari awal. Kali ini ia tidak lari. Menurut tradisi itu, Tuhan membukakan rahasia kitab-kitab Perjanjian Lama dan Baru baginya.

Anak yang pernah kabur dari pelajarannya itu tumbuh menjadi tokoh yang paling dihormati dalam sejarah musik Ethiopia. Gereja mengisahkan bahwa ia mendengar nyanyian surgawi, dan sesudah itu ia menyusun sistem nyanyian liturgi dalam tiga ragam yang dikenal sebagai Ge’ez, Izil, dan Araray. Sebagian penuturan mengaitkan ketiganya dengan tiga ekor burung yang mengajarinya menyanyi. Ia juga dikenang menulis kitab-kitab nyanyian untuk ibadah sepanjang tahun, dan nyanyian itu masih bergema di gereja-gereja Ethiopia sampai hari ini.

Sejarah Yared sulit dipastikan, dan cerita ini lebih merupakan tradisi kesalehan daripada catatan sejarah. Namun ulat di batang pohon itu tetap dikenang bersama namanya.

💖 Pesan Moral

  • Gagal berkali-kali bukan tanda harus berhenti. Ulat itu tak pernah tahu bahwa percobaan keenam akan berhasil, ia hanya tahu cara naik lagi.
  • Pelajaran bisa datang dari tempat paling kecil, asalkan kita mau duduk dan memperhatikan.
  • Pulang dan memulai dari awal juga butuh keberanian. Yared harus meminta maaf sebelum ia bisa belajar lagi.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari tradisi Gereja Ortodoks Tewahedo Ethiopia tentang Santo Yared. Sebagian penuturan menyebut serangga itu semut, dan rinciannya berbeda antarsumber.