Anansi Membeli Cerita dari Langit
Laba-laba berlapis emas pada ujung tongkat Akan, dari budaya tempat kisah Anansi lahir. Gambar: Unknown author Unknown author · CC0 · sumber
Dahulu kala, semua cerita di dunia tersimpan di langit, dalam kotak milik Nyame, Dewa Langit. Di bumi orang bekerja, makan, dan tidur, tetapi malam-malam mereka sunyi karena tak seorang pun punya cerita untuk dituturkan.
Kwaku Anansi, si laba-laba, tidak tahan dengan kesunyian itu. Ia memintal benang sampai ke langit, lalu menghadap Nyame dan bertanya berapa harga cerita-cerita itu.
Dewa Langit tertawa sampai awan bergetar. Raja-raja besar sudah pernah mencoba membelinya dan gagal. Bagaimana mungkin makhluk sekecil ini?
“Harganya empat: Onini si ular piton, Osebo si macan tutul, Mmoboro para tawon, dan Mmoatia, peri yang tak pernah terlihat manusia. Bawa semuanya kemari.”
“Akan kubawa,” kata Anansi, lalu turun kembali ke bumi.
Mula-mula ia menebang dahan palem yang panjang dan berjalan ke tepi sungai sambil bergumam keras, seolah sedang berdebat. “Dia lebih panjang dari ini! Tidak, dahan ini yang lebih panjang!”
Onini mengangkat kepalanya. “Apa yang kaugumamkan?”
“Istriku berkeras dahan ini lebih panjang daripada tubuhmu. Aku bilang tidak.”
Ular itu tersinggung dan membaringkan diri di sepanjang dahan. Supaya pengukurannya adil, kata Anansi, ia perlu mengikat ular itu agar lurus. Satu ikatan di kepala, satu di tengah, satu di ekor. Onini pun terikat.
Berikutnya, Anansi mengisi labu dengan air. Ia berdiri di dekat sarang tawon, menyiramkan air ke sarang, lalu menyiram daun pisang yang ia pegang di atas kepalanya sendiri.
“Hujan! Hujan deras! Cepat masuk ke labu kosong ini, nanti sayap kalian rusak!”
Para tawon berbondong-bondong masuk, dan Anansi langsung menyumbat lubangnya.
Untuk Osebo, ia menggali lubang dalam di jalan yang biasa dilalui macan itu, lalu menutupinya. Ketika Osebo terperosok dan tak bisa keluar, Anansi muncul di bibir lubang dengan wajah prihatin dan menawarkan bantuan. Macan yang kelelahan itu tak punya pilihan, dan begitu ia ditarik naik, tubuhnya sudah terikat.
Yang terakhir paling sulit, karena tak ada yang bisa melihat Mmoatia. Anansi mengukir boneka kayu dan melumurinya dengan getah lengket. Ia meletakkannya di bawah pohon odum tempat para peri bermain, dengan semangkuk ubi tumbuk di depannya. Mmoatia datang, memakan ubi itu, lalu berterima kasih. Boneka itu diam saja. Tersinggung oleh sikap yang tidak sopan itu, ia menampar boneka dengan satu tangan, dan tangannya melekat. Ia menampar dengan tangan satunya, dan melekat pula.
Maka naiklah Anansi ke langit membawa keempat tawanannya. Nyame terdiam lama, lalu memanggil seluruh penghuni langit dan berkata:
“Kwaku Anansi, mulai hari ini dan untuk selamanya, kuberikan cerita-cerita Dewa Langit kepadamu. Kose! Kose! Kose! Berkatku, berkatku, berkatku! Jangan lagi disebut cerita Dewa Langit. Sebutlah cerita laba-laba.”
Sejak itu cerita tersebar ke seluruh bumi, dan para pendongeng Akan punya cara sendiri untuk menutupnya: inilah ceritaku; manis atau tidak manis, ambillah sebagian, dan biarkan sebagian kembali kepadaku.
💖 Pesan Moral
- Ukuran tubuh bukan ukuran kemampuan. Anansi tidak punya taring, hanya akal dan keberanian untuk mencoba.
- Kenali kelemahan lawan. Ular dikalahkan gengsinya, tawon oleh rasa takutnya, dan peri oleh harga dirinya sendiri.
- Hal berharga layak dibayar mahal. Cerita yang kita nikmati hari ini pun, dalam dongeng ini, dulu dibeli dengan susah payah.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Akan (Ashanti), Ghana, yang dicatat antara lain oleh R. S. Rattray. Rincian tiap jebakan berbeda antarversi.