Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Mutiara di Tengah Padang Pasir

3 menit baca

Bukit pasir Rub al-Khali di Jazirah Arab, gurun tempat mutiara tak ada harganya. Gambar: Nepenthes · CC BY-SA 3.0 · sumber

Basrah, kota pelabuhan yang kaya, punya pasar perhiasan yang termasyhur. Para pedagang permata duduk di sana sepanjang hari, memeriksa mutiara di bawah cahaya, berdebat tentang kilau dan beratnya, dan menawar dengan jari-jari yang pandai berhitung. Syekh Sa’di dari Syiraz, pengembara yang gemar memperhatikan orang, suatu hari melihat kerumunan di tengah pasar itu.

Di tengah lingkaran para pedagang permata itu duduk seorang lelaki Arab dari padang pasir. Pakaiannya sederhana, kulitnya gelap terbakar matahari. Ia sedang bercerita, dan para ahli perhiasan yang biasanya sulit dibuat terkesan itu mendengarkannya.

Ia berkata bahwa suatu ketika ia pernah tersesat di tengah padang pasir. Hari demi hari ia berjalan tanpa menemukan jalan yang benar. Bekal makanannya telah habis, tidak tersisa satu butir pun. Tenaganya menipis. Ia sudah menyerahkan dirinya kepada kematian, dan menganggap bahwa hari-harinya memang akan berakhir di tengah pasir itu.

Lalu, tiba-tiba, ia melihat sesuatu tergeletak di tanah. Sebuah kantong.

Ia memungutnya dengan tangan gemetar. Kantong itu terasa berat, isinya butir-butir kecil yang bergeser ketika ia menekannya. Betapa bahagianya ia! Ia yakin butir-butir itu gandum sangrai, bekal yang tertinggal atau jatuh dari kafilah yang lewat. Ia akan makan. Ia akan hidup. Seumur hidupnya, kata lelaki itu, ia tak akan pernah melupakan kegembiraan yang ia rasakan saat itu.

Dengan jari-jari yang kaku ia membuka ikatan kantong dan menuangkan isinya ke telapak tangan.

Butir-butir itu putih, bundar, dan berkilau di bawah matahari. Mutiara. Sekantong penuh mutiara.

Lelaki Arab itu berhenti sebentar, dan para pedagang permata di sekelilingnya pun terdiam. Mereka tahu benar berapa harga sekantong mutiara. Di pasar itu, harta sebesar itu bisa membeli rumah, kebun, dan seratus unta. Orang yang memilikinya akan disebut beruntung seumur hidup.

Namun lelaki itu berkata bahwa ia juga tidak akan pernah melupakan kepahitan dan keputusasaan yang ia rasakan ketika mengetahui bahwa semua itu hanya mutiara.

Sa’di mencatat cerita itu, dan menutupnya dengan sebait syair. Di gurun yang gersang dan pasir yang berembus, apa gunanya mutiara atau kerang bagi orang yang kehausan? Bagi musafir yang kelaparan dan tak berdaya, emas tak lebih berharga daripada pecahan tembikar.

Barangkali para pedagang di Basrah itu kembali ke timbangan mereka hari itu dengan perasaan yang sedikit berbeda. Mutiara-mutiara di depan mereka masih berkilau seperti biasa. Hanya saja, mereka kini tahu bahwa harganya bergantung pada tempat seseorang berdiri.

💖 Pesan Moral

  • Nilai suatu barang bergantung pada keadaan. Yang sangat mahal di pasar tak berarti apa-apa ketika perut kosong.
  • Kenali apa yang benar-benar kita butuhkan. Orang bisa mengejar “mutiara” seumur hidup sambil kelaparan akan hal yang lebih mendasar.
  • Syukuri hal-hal sederhana selagi ada. Sepotong roti, seteguk air, dan badan yang sehat baru terasa harganya setelah hilang.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah dalam Gulistan karya Sa’di dari Syiraz, bab ketiga.