Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Tenali Raman dan Kuda yang Kurus

3 menit baca

Kuda-kuda batu di Hampi, bekas ibu kota Wijayanagara, kerajaan tempat Tenali Raman mengabdi. Gambar: Dineshkannambadi · CC BY-SA 3.0 · sumber

Raja Krishnadevaraya dari Vijayanagara sedang bersemangat memperkuat pasukan berkudanya. Pada suatu hari ia membagikan seekor anak kuda kepada beberapa punggawa pilihan. Tenali Raman, si penyair jenaka, juga mendapat satu.

“Rawat anak kuda ini baik-baik,” titah sang raja. “Kas istana akan menanggung biaya pakannya. Beberapa waktu lagi, aku ingin melihat hasilnya.”

Para punggawa pulang dan membangun kandang yang rapi. Mereka menyewa perawat kuda, membeli gandum dan rumput terbaik, dan menyikat bulu kuda-kuda itu sampai berkilau.

Tenali Raman membawa anak kudanya pulang dan memasukkannya ke sebuah bilik kecil. Dindingnya rapat, dengan satu lubang kecil saja. Lewat lubang itu, sehari sekali, ia menyodorkan segenggam rumput dan sedikit air. Dana pakan dari istana, setiap kali diterimanya, ia simpan dengan teliti untuk keperluan keluarganya.

“Tuan tidak kasihan?” tanya istrinya.

“Kuda perlu latihan bersabar,” jawab Raman tanpa berkedip.

Waktu pemeriksaan tiba. Para punggawa berbaris di lapangan istana bersama kuda-kuda muda mereka yang gagah. Sang raja berjalan menyusuri barisan dan mengangguk senang. Lalu ia berhenti.

“Raman, mana kudamu?”

Tenali Raman membungkuk dengan wajah penuh penyesalan. “Ampun, Baginda. Kuda itu begitu liar sehingga hamba tak sanggup membawanya. Tak seorang pun di rumah hamba berani mendekat. Kalau Baginda berkenan mengirim prajurit terkuat, mungkin ia bisa dikendalikan.”

Sang raja heran sekaligus penasaran. Ia menugaskan prajuritnya yang paling gagah berani, seorang lelaki bertubuh besar dengan janggut tebal yang menjadi kebanggaannya.

Tenali Raman mengantarnya pulang, menunjuk ke lubang di dinding bilik, dan berkata, “Silakan Tuan lihat sendiri. Hati-hati, ya.”

Prajurit itu mendengus. Ia membungkuk dan mendekatkan wajahnya ke lubang. Di dalam gelap, seekor anak kuda yang sudah lama kelaparan melihat sesuatu yang lebat dan kecokelatan muncul di lubang. Rumput, pikirnya. Banyak sekali!

Kuda itu mengatupkan giginya pada janggut sang prajurit dan menarik sekuat tenaga.

Terdengar raungan yang membuat ayam-ayam tetangga beterbangan. Prajurit itu menjerit dan meronta, tetapi kepalanya tersangkut di lubang dan janggutnya tak mau dilepas. Tenali Raman pun berlari ke istana sekencang-kencangnya.

“Baginda! Celaka! Kuda itu sudah menangkap prajurit Baginda dan tidak mau melepaskannya!”

Sang raja bergegas datang bersama rombongannya. Ia memerintahkan dinding bilik dirobohkan. Setelah batu-batu disingkirkan, barulah sang prajurit terbebas, dengan janggut yang tidak lagi selebat tadi.

Lalu semua orang melihat kuda itu. Tulang rusuknya menonjol, kakinya gemetar, dan ia nyaris tak bisa berdiri. Wajah sang raja memerah.

“Raman! Inikah yang kausebut liar? Binatang ini hampir mati! Bukankah sudah kuberi dana untuk memberinya makan?”

Tenali Raman merentangkan tangan dengan wajah polos. “Justru itu, Baginda. Lihatlah. Dengan makan sesedikit ini saja ia sudah bisa menaklukkan prajurit terkuat Baginda. Bayangkan kerusakan yang akan terjadi kalau hamba memberinya makan cukup!”

Mulut sang raja terbuka, lalu menutup lagi. Sekian lama ia tidak tahu harus marah atau tertawa, dan akhirnya ia berbalik pergi.

Kisah ini tidak menceritakan apakah anak kuda itu kemudian mendapat makanan yang layak. Kita harap saja begitu.

💖 Pesan Moral

  • Dalih yang lucu tetaplah dalih. Tenali Raman lolos karena jenaka, tetapi kuda yang kurus tetap menjadi bukti kelalaiannya.
  • Yang kita rawat bergantung pada kita. Hewan atau orang yang kita tanggung tidak bisa protes ketika haknya kita pangkas.
  • Bagi pemilik janggut lebat: berhati-hatilah di dekat kuda yang lapar.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Tenali Raman di India selatan, salah satu versi.