Kendi Berisi Akal
Kendi tanah liat, sejenis wadah yang leher sempitnya menjadi kunci cerita ini. Gambar: PSatyalakshmi · CC BY-SA 4.0 · sumber
Seorang utusan dari negeri jauh tiba di balairung Kaisar Akbar. Ia membungkuk dalam-dalam, lalu membuka gulungan surat dari rajanya, penguasa Lanka.
“Kami mendengar bahwa istana Paduka dipenuhi orang-orang bijak,” bacanya lantang. “Sudilah Paduka mengirimkan kepada kami sekendi penuh akal budi.”
Balairung menjadi sunyi. Beberapa pejabat mengira mereka salah dengar. Sekendi akal? Bagaimana menakar akal budi? Dengan sendok? Dengan gayung?
Akbar merasakan pipinya memanas. Permintaan ini jelas sebuah jebakan. Kalau ia mengaku tak bisa memenuhinya, seluruh negeri akan tahu bahwa kebijaksanaan istana Mughal cuma omong kosong. Kalau ia mengirim kendi kosong, ia akan ditertawakan.
Ia memandang para menterinya, dan para menteri itu tiba-tiba sangat tertarik memandangi lantai. Tinggal satu orang yang tampak santai, yaitu Birbal, yang sedang merapikan lipatan bajunya.
“Tentu saja bisa, Tuan Utusan,” kata Birbal seolah-olah orang itu baru saja meminta sekeranjang mangga. “Kami punya persediaan. Hanya saja, akal budi yang bermutu tidak bisa dibuat terburu-buru. Beri kami beberapa minggu. Silakan beristirahat sambil menunggu.”
Utusan itu dijamu di wisma istana. Akbar menarik Birbal ke samping dan berbisik, “Apa engkau sudah gila?”
“Belum, Paduka,” jawab Birbal. “Tolong izinkan hamba meminjam kebun sayur istana.”
Hari itu juga, Birbal memesan sebuah kendi tanah liat berleher sempit dan berperut lebar. Ia membawanya ke kebun, ke tempat tanaman labu merambat. Ia memilih sekuntum bunga labu yang masih muda, dengan hati-hati memasukkannya lewat leher kendi tanpa memetiknya dari batangnya, dan menyandarkan kendi itu di tanah.
“Rawat tanaman ini,” katanya kepada tukang kebun. “Jangan pindahkan kendinya, dan jangan biarkan siapa pun menyentuhnya.”
Tukang kebun itu sudah cukup lama bekerja di istana untuk tahu bahwa ia tak perlu bertanya.
Birbal sering datang menengok, seperti seorang tabib memeriksa pasien. Di dalam kendi yang gelap, bunga itu berubah menjadi buah kecil. Hari demi hari buah itu membesar, sampai akhirnya memenuhi seluruh perut kendi.
Birbal memotong tangkainya, membersihkan kendi itu, dan membawanya ke balairung. Utusan Lanka dipanggil. Di hadapan seluruh istana, Birbal menyerahkan kendi itu dengan kedua tangan.
“Inilah sekendi akal budi yang diminta raja Tuan.”
Utusan itu mengintip lewat leher kendi yang sempit, dan terlihat sesuatu yang padat di dalamnya.
“Ada satu pesan,” lanjut Birbal dengan wajah serius. “Raja Tuan boleh mengeluarkan akal budi itu, tetapi kendinya tidak boleh dipecahkan dan isinya tidak boleh dipotong sedikit pun. Bila rusak, khasiatnya hilang. Kalau beliau sudah berhasil mengeluarkannya utuh, silakan kembalikan kendinya. Kami akan mengisinya lagi.”
Utusan itu memandang leher kendi yang sempit, lalu buah besar di baliknya. Ia mengerti. Ia membungkuk jauh lebih dalam daripada saat pertama kali datang.
Akbar menyembunyikan senyumnya di balik janggut. Dan para menteri kembali memandangi lantai.
💖 Pesan Moral
- Pertanyaan yang mustahil sering bisa dijawab dengan cara yang tak terduga. Birbal tidak membantah permintaan itu. Ia hanya menjawab dalam bahasa yang sama.
- Kebijaksanaan tumbuh pelan-pelan, seperti labu di dalam kendi, dan tidak bisa ditarik keluar begitu saja.
- Waktu adalah sekutu. Sebelum menjawab tantangan besar, mintalah waktu dan gunakan dengan baik.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot rakyat Akbar dan Birbal, salah satu versi. Dalam versi lain, yang meminta adalah raja negeri lain atau Akbar sendiri.