Brahmana dan Tiga Penipu
Seekor kambing gemuk dalam lukisan miniatur Mughal, cukup jelas bagi siapa pun yang mau percaya pada matanya sendiri. Gambar: anonymous · Public domain · sumber
Hari itu gerimis turun sejak pagi, dan angin membawa dingin sampai ke tulang. Seorang brahmana yang setia merawat api suci berjalan ke desa tetangga. Ia hendak mengadakan upacara pada malam bulan mati, dan untuk itu ia membutuhkan seekor hewan kurban.
Permintaannya dikabulkan. Seorang warga desa memberinya seekor kambing yang gemuk. Brahmana itu memeriksanya, memastikan hewan itu sehat, lalu mengangkatnya ke atas bahu dan bergegas pulang.
Di tengah jalan, tiga orang penipu melihatnya dari kejauhan. Perut mereka kosong dan badan mereka menggigil.
“Lihat kambing itu,” bisik yang tertua. “Kalau kita bisa memakannya, hujan dingin begini tak akan terasa lagi.”
“Dia kuat, dan orang-orang menghormatinya,” kata yang kedua. “Merebutnya akan jadi perkara.”
“Siapa bilang kita akan merebut?” sahut yang ketiga sambil tersenyum. “Kita buat saja dia sendiri yang melepaskannya.”
Mereka berbagi tugas, mengganti pakaian, lalu mengambil jalan pintas supaya bisa menghadang dari tiga tempat yang berbeda.
Penipu pertama muncul dari jalan setapak dan berseru dengan wajah terkejut. “Tuan Brahmana yang saleh! Mengapa Tuan memikul anjing di bahu? Hewan itu najis bagi orang seperti Tuan!”
Brahmana itu naik darah. “Apa matamu buta? Ini kambing!”
“Maafkan saya, Tuan. Jangan marah. Silakan lanjutkan perjalanan,” kata si penipu sambil mundur.
Belum jauh berjalan, ia bertemu penipu kedua, yang menggeleng-geleng dengan sedih. “Aduh, Tuan. Sesayang apa pun Tuan pada anak sapi itu, bangkainya tak pantas dipikul di bahu. Orang yang menyentuh bangkai harus menyucikan diri.”
“Anak sapi? Bangkai?” bentak sang brahmana. “Kau pun buta rupanya! Ini kambing hidup!”
“Ampun, Tuan. Saya hanya salah bicara. Terserah Tuan saja.”
Brahmana itu melanjutkan langkah, tetapi kali ini sambil melirik ke bahunya. Kambing itu masih tampak seperti kambing. Hanya saja, dua orang asing tadi begitu yakin. Mengapa mereka melihat hal yang berbeda?
Di bagian hutan yang sepi, penipu ketiga menunggunya. Orang ini mundur beberapa langkah dengan wajah ngeri, seolah melihat sesuatu yang sangat memalukan.
“Tuan, ini sungguh tidak patut. Tuan memikul keledai! Siapa pun yang menyentuh keledai, sengaja atau tidak, harus mandi dan mencuci pakaiannya. Lekas turunkan sebelum ada orang lain yang melihat.”
Tiga orang, tiga hewan yang berbeda. Lutut sang brahmana mulai gemetar. Kalau kambing ini bisa tampak sebagai anjing, anak sapi, dan keledai, pasti ia bukan kambing. Pasti ini makhluk gaib yang berganti rupa di atas bahunya sendiri.
Ia melemparkan hewan itu ke tanah dan lari pulang tanpa menoleh sedikit pun.
Ketiga penipu keluar dari balik semak, menangkap si kambing yang kebingungan, dan malam itu mereka tidak lagi kedinginan.
💖 Pesan Moral
- Kebohongan yang diulang banyak orang terasa seperti kebenaran. Brahmana itu melihat kambing dengan matanya sendiri, tetapi tiga suara mengalahkan penglihatannya.
- Periksa sumbernya, jangan hitung jumlahnya. Tiga orang yang bersuara sama belum tentu tiga saksi yang berbeda. Bisa saja mereka satu kelompok dengan satu tujuan.
- Waspadalah ketika rasa takut mulai mengambil alih. Penipu tidak perlu mengalahkan akal kita. Cukup membuat kita panik, dan kita sendiri yang akan meletakkan barang kita di tanah.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah “Brahmana dan Kambing” dalam Panchatantra, Buku III (Burung Gagak dan Burung Hantu).