Sutasoma dan Raksasa Pemakan Manusia
Relief Borobudur tentang Sutasoma yang dibawa pergi oleh si pemakan manusia. Gambar: Anandajoti Bhikkhu · CC BY-SA 3.0 · sumber
Dua pangeran belajar di bawah guru yang sama di Takkasila: Sutasoma dari negeri Kuru dan Brahmadatta dari Benares. Ketika dewasa, masing-masing naik takhta, tetapi jalan hidup mereka jauh berbeda.
Brahmadatta punya kebiasaan makan daging pada setiap hidangan. Pada suatu hari suci, daging itu disisihkan, dan karena juru masak lengah, anjing-anjing istana melahapnya. Daging tak bisa dicari lagi. Karena takut dihukum, juru masak diam-diam mengambil daging dari jenazah di pekuburan. Raja memakannya, dan lidahnya tak pernah bisa melupakan rasa itu. Ia memaksa juru masak mengakui asal daging tersebut, lalu menyuruhnya mencarikan lagi. Orang-orang mulai hilang di kota.
Panglimanya, Kalahatthi, menyelidiki dan menyeret juru masak itu ke hadapan raja. Ia menawarkan pilihan: tinggalkan kebiasaan itu, atau tinggalkan takhta. Raja memilih daging. Ia diusir ke hutan, dan di sana ia menjadi makhluk yang ditakuti, si pemakan manusia.
Ia pernah bernazar kepada roh pohon untuk mempersembahkan para raja. Satu per satu raja ia tangkap dan ia gantung di pohon besar, sampai jumlahnya lebih dari seratus. Roh pohon yang tidak tahan melihatnya memberi tahu: ada satu raja yang harus ia tangkap, Sutasoma.
Pagi itu Sutasoma pergi mandi di taman. Di jalan ia dihampiri seorang brahmana bernama Nanda yang membawa empat bait ajaran Buddha Kassapa, masing-masing bernilai seratus keping. Sutasoma berjanji akan mendengarkannya sesudah mandi. Selesai mandi, pemakan manusia itu muncul, menangkapnya, dan melarikannya ke hutan.
Di tengah perjalanan Sutasoma menangis. Pemakan manusia itu tertawa mengejek.
“Aku bukan menangis karena takut mati,” kata Sutasoma. “Aku sudah berjanji mendengarkan seorang brahmana, dan ia sedang menunggu. Izinkan aku pulang. Setelah mendengarnya, aku akan kembali kepadamu.”
Pemakan manusia itu tak percaya. Tetapi kata-kata Sutasoma begitu sungguh-sungguh sehingga ia melepasnya untuk melihat apa yang akan terjadi.
Sutasoma pulang, mendengarkan empat bait itu dengan hormat, dan menghargai setiap bait seribu keping, sepuluh kali lipat dari nilainya. Ayah dan ibunya menangis memintanya tinggal. Pasukan siap menjaganya. Ia tetap berangkat, sendirian, kembali ke hutan.
Pemakan manusia itu tertegun melihatnya datang tanpa rasa takut. Ia bertanya apa isi bait-bait yang begitu berharga. Sutasoma melantunkannya. Keempatnya berbicara tentang manfaat bergaul dengan orang baik, tentang kebaikan yang tak lapuk oleh waktu. Sesuatu dalam diri pemakan manusia itu tersentuh. Ia menawarkan anugerah.
Sutasoma meminta tiga hal lebih dulu: semoga si pemakan manusia panjang umur, semoga para raja tawanan itu dibebaskan, dan semoga mereka dikembalikan ke negerinya. Lalu, sesudah ketiganya disanggupi, ia meminta yang keempat: berhentilah makan daging manusia.
Orang itu menangis. Ia tak bisa membayangkan hidup tanpanya. Namun ia sudah berjanji, dan ia sudah melihat sendiri seperti apa orang yang memegang janji. Ia merebahkan diri di kaki Sutasoma dan bersumpah berhenti.
Bersama-sama mereka menurunkan para raja dan merawat luka mereka. Sutasoma mengantar kawan lamanya itu pulang ke Benares dan mengembalikannya ke takhta.
💖 Pesan Moral
- Janji yang ditepati bisa mengubah orang lain. Yang menaklukkan pemakan manusia adalah seorang raja yang kembali ke hadapannya atas kemauan sendiri.
- Kebiasaan buruk tumbuh dari satu keputusan. Semuanya bermula dari sepiring makanan yang tidak dipertanyakan.
- Pilihlah teman dengan sungguh-sungguh. Pergaulan yang baik sanggup memulihkan seseorang yang sudah sangat jauh tersesat.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Maha-Sutasoma Jataka (Jataka no. 537), kumpulan kisah kelahiran lampau Buddha dalam tradisi Buddhis; bentuk ringkas dari kisah aslinya yang panjang. Di Jawa, kisah Sutasoma digubah ulang dalam versi berbeda oleh Mpu Tantular pada abad ke-14 sebagai Kakawin Sutasoma, sumber semboyan Bhinneka Tunggal Ika.