Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Keledai Berkulit Singa

3 menit baca

Ilustrasi John D. Batten (1892): sang pedagang menyelimuti keledainya dengan kulit singa. Gambar: John D. Batten · Public domain · sumber

Seorang pedagang keliling punya siasat yang membuatnya bisa berdagang tanpa pernah mengeluarkan uang untuk pakan. Barang-barangnya diangkut seekor keledai. Setiap kali tiba di tepi desa, ia menurunkan muatan, menyelimutkan selembar kulit singa ke punggung keledainya, lalu melepaskannya ke ladang padi atau jelai milik orang.

Siasat itu selalu berhasil. Para penjaga ladang yang melihat dari kejauhan sosok berkulit kekuningan dengan surai lebat itu langsung lari. Siapa yang berani mendekati singa demi sepetak tanaman? Si keledai pun makan sampai kenyang, dan si pedagang tertawa sendiri sambil menghitung untung.

Keledai itu sendiri tampaknya tak banyak berpikir. Ia hanya tahu bahwa ke mana pun ia berjalan, manusia lari dan rumput menjadi miliknya. Mungkin lama-lama ia merasa memang begitulah nasib makhluk sehebat dirinya.

Suatu pagi mereka singgah di sebuah desa. Sementara si pedagang sibuk memasak sarapan, keledai dalam balutan kulit singa dilepaskan ke ladang jelai. Para penjaga melihatnya dan, seperti penjaga lain di desa-desa sebelumnya, mereka lari terbirit-birit. Bedanya, kali ini mereka tidak bersembunyi. Mereka pulang dan memberi tahu seluruh desa.

“Ada singa di ladang! Ada singa!”

Warga desa ini kebetulan tidak mau menyerahkan panen mereka begitu saja. Semua orang mengambil apa saja yang bisa dijadikan senjata, lalu bergerak ke ladang beramai-ramai sambil berteriak, meniup kerang, dan memukul genderang.

Keledai itu belum pernah mendengar keributan seperti itu. Ia mengangkat kepala. Telinganya berdiri di balik kulit singa. Ketakutan menyergapnya sampai ke ujung kaki, dan di tengah ladang, di hadapan seluruh warga, keluarlah suaranya yang asli.

“Hi-hooo! Hi-hooo!”

Barisan warga berhenti. Beberapa orang saling berpandangan. Seorang petani yang berdiri paling depan lalu berkata keras-keras, setengah tertawa:

“Ini bukan singa, bukan harimau, bukan pula macan tutul! Ini cuma keledai tua yang berselimut kulit singa!”

Ketakutan yang tadi memenuhi dada mereka berubah menjadi amarah. Mereka maju dengan tongkat, dan tak ada lagi yang bisa menolong keledai malang itu. Kulit singanya mereka bawa pulang.

Tak lama si pedagang datang dan menemukan keledainya terkapar di tepi ladang. Ia bergumam getir: hewan itu bisa saja lama makan di ladang orang dengan aman, asalkan tak membuka mulut. Satu teriakan saja sudah membuka semuanya. Belum selesai ia berkata begitu, keledai itu mati di depannya.

Namun yang paling bersalah sebenarnya bukan si keledai. Ia hanya dipakaikan kulit itu. Yang memakaikannya kini harus memikul sendiri semua dagangannya.

💖 Pesan Moral

  • Penampilan pinjaman punya batas. Kulit bisa ditukar, suara asli tidak. Saat tertekan, siapa kita sebenarnya akan terlihat.
  • Yang menipu lewat orang lain ikut menanggung akibatnya. Pedagang itu merasa cerdik, tetapi kehilangan keledainya sendiri.
  • Keberanian bersama membongkar gertakan. Banyak “singa” hanya ditakuti karena tak ada yang mau mendekat dan memeriksa.
  • Jangan mudah terkesan oleh gelar dan jubah. Dengarkan dulu apa yang keluar dari mulutnya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Sihacamma Jataka (Jataka no. 189), kumpulan kisah kelahiran lampau Buddha dalam tradisi Buddhis. Fabel dengan pola serupa juga dikenal dalam tradisi Aesop dan Panchatantra.