Mangkuk Emas dan Dua Pedagang
Sebuah mangkuk emas kuno koleksi museum, sebagai gambaran benda berharga di balik kerak hitam dalam kisah ini. Gambar: Tidak diketahui · CC0 · sumber
Dua pedagang keliling dari negeri Seri menyeberangi Sungai Telavaha menuju kota Andhapura. Mereka menjual periuk dan perhiasan murah. Sesampai di kota, mereka membagi wilayah supaya tidak berebut pembeli: masing-masing menyusuri jalannya sendiri, dan jalan yang sudah dilewati yang satu boleh didatangi yang lain sesudahnya.
Di kota itu ada sebuah rumah tua yang dulu milik keluarga saudagar kaya. Kini anak-anak lelakinya sudah tiada, hartanya habis, dan yang tersisa hanya seorang nenek bersama cucu perempuannya. Mereka hidup dari upah kerja serabutan.
Si pedagang pertama, yang tamak, lewat di depan rumah itu sambil berseru menawarkan dagangan.
“Nek, belikan aku sesuatu,” pinta si cucu.
“Kita ini miskin, Nak. Mau bayar dengan apa?”
Gadis itu teringat sebuah mangkuk tua yang tergeletak di antara periuk-periuk, hitam oleh kotoran karena lama tak dipakai. Dulu kepala keluarga mereka makan dari mangkuk itu, tetapi keduanya tak tahu terbuat dari apa. Mereka memanggil si pedagang dan menawarkannya untuk ditukar.
Pedagang itu membalik mangkuk dan menggoresnya dengan jarum. Dari goresan kecil itu ia tahu: di balik kerak hitam ada emas. Pikirannya langsung bekerja. Kalau ia berpura-pura mangkuk ini tak berharga, ia bisa mendapatkannya hampir gratis.
“Barang rongsokan begini mau ditukar apa? Tak ada harganya sama sekali,” katanya sambil melempar mangkuk itu ke lantai. Ia pergi, berencana kembali nanti.
Tak lama, pedagang kedua lewat di jalan yang sama. Gadis itu meminta lagi. Pedagang tadi kasar bicaranya, katanya, sedangkan yang ini tampak ramah. Neneknya pun menyerahkan mangkuk yang sama, dan si pedagang langsung mengenali emas di dalam genggamannya.
“Nek, mangkuk ini bernilai seratus ribu keping. Semua dagangan dan uangku tak cukup untuk membayarnya,” katanya terus terang.
“Tadi ada pedagang yang bilang harganya tak ada apa-apanya. Rupanya berkat kejujuranmu benda ini jadi berharga. Ambillah, dan berikan saja berapa yang kau punya.”
Pedagang itu menyerahkan seluruh uangnya, lima ratus keping, dan semua barang dagangannya. Ia hanya meminta timbangan, kantong, dan delapan keping untuk ongkos perahu. Lalu ia berjalan cepat ke tepi sungai.
Pedagang tamak kembali dan berlagak bersedia menukar mangkuk itu dengan sedikit barang. Si nenek menatapnya dengan marah.
“Kau bilang mangkuk emas kami tak berharga. Seorang pedagang jujur sudah membelinya.”
Darahnya serasa berhenti. Ia melempar uang dan barangnya, menyambar tuas timbangan, dan berlari ke sungai. Perahu sudah di tengah air. Ia berteriak-teriak memanggil, tetapi pedagang jujur menyuruh tukang perahu terus mendayung. Melihat perahu itu menjauh, rasa kecewa dan amarah menguasainya begitu dahsyat sampai jantungnya tak sanggup menahan, dan ia roboh di tepi sungai.
💖 Pesan Moral
- Kejujuran paling teruji saat orang lain tidak tahu. Kedua pedagang sama-sama tahu nilai mangkuk itu; hanya satu yang mengatakannya.
- Jangan mengambil untung dari ketidaktahuan orang. Nenek dan cucu itu percaya, dan kepercayaan mereka mudah sekali disalahgunakan.
- Keserakahan membuat orang menunda dan akhirnya kehilangan. Pedagang tamak kehilangan peluang justru karena ingin membayar lebih murah.
- Jangan biarkan amarah menentukan akhir. Yang hilang darinya hanya sebuah kesempatan, tetapi amarah itu merenggut nyawanya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Serivanija Jataka (Jataka no. 3), kumpulan kisah kelahiran lampau Buddha dalam tradisi Buddhis.