Bunbuku Chagama, Ceret Tanuki
Tanuki dari kuil Morin-ji dalam cetakan kayu Tsukioka Yoshitoshi. Gambar: Taiso, Yoshitoshi, 1839-1892, artist · Public domain · sumber
Kepala biara Morin-ji, sebuah kuil di Tatebayashi, Jepang, sangat menyukai upacara minum teh. Suatu hari ia menemukan ceret besi tua di pasar loak, atau di gudang kuil menurut versi lain, dan dengan bangga membawanya ke biara. Ceret itu berat, bentuknya bagus, dan ia yakin harganya murah karena pedagang tidak mengerti.
Ia menyuruh para biksu muda menggosoknya sampai berkilat, lalu mengisinya dengan air dan menaruhnya di atas arang.
Air mulai hangat. Lalu dari dasar ceret terdengar suara kecil.
“Aduh! Panas!”
Ceret itu melompat dari tungku. Di depan mata para biksu yang melongo, tumbuh seekor kepala berbulu, empat kaki, dan ekor yang tebal, sementara tubuhnya tetap berupa ceret besi. Ceret itu berlari keliling ruangan sambil menepuk-nepuk bokongnya yang kepanasan, memanjat tiang, dan melompat-lompat di balok atap. Para biksu mengejarnya dengan sapu. Saat akhirnya tertangkap, makhluk itu sudah kembali diam menjadi ceret biasa.
Kepala biara merasa benda ini tidak baik untuk ketenangan batin. Ketika seorang tukang patri keliling lewat, ceret itu ia jual dengan harga murah.
Malam itu, tukang patri tersebut baru hendak tidur ketika terdengar suara dari sudut gubuknya.
“Permisi. Maaf mengganggu.”
Ceret itu sudah berkepala dan berkaki lagi. Ia mengaku bahwa ia seekor tanuki, hewan anjing rakun yang pandai berubah wujud. Ia berubah menjadi ceret untuk main-main, tetapi lalu lupa cara kembali sepenuhnya. Ia memohon satu hal: jangan ditaruh di atas api, dan beri makan nasi.
“Sebagai gantinya, saya bisa menari. Tuan pasti bisa mendapat uang dari itu.”
Tukang patri itu bukan orang yang suka menolak rezeki. Ia menyewa panggung kecil, memasang papan nama, dan mengundang orang. Maka tampillah Bunbuku Chagama, ceret keberuntungan, yang berjalan di atas tali sambil memegang payung, menari, dan membungkuk kepada penonton dengan kepala kecilnya. Orang berdesakan dari desa-desa sekitar. Tak lama kemudian bahkan bangsawan datang menonton.
Si tukang patri menjadi kaya. Yang menarik, ia tidak menjadi rakus. Ia melihat bahwa tanuki itu mulai kelelahan. Suatu hari ia memutuskan cukup sudah. Ia mengantarkan ceret itu kembali ke Morin-ji bersama sebagian besar penghasilannya, dengan permintaan agar ceret itu tidak pernah lagi ditaruh di atas api.
Para biksu memenuhi janji itu. Sampai sekarang kuil Morin-ji menyimpan sebuah ceret yang disebut sebagai Bunbuku Chagama, dan halamannya dipenuhi patung tanuki yang tersenyum, mungkin sedang memikirkan penampilan berikutnya.
💖 Pesan Moral
- Yang aneh bagi satu orang bisa menjadi rezeki bagi yang lain. Biksu ketakutan, tukang patri melihat peluang.
- Kemitraan yang baik saling menjaga. Tukang patri berhenti saat kawannya lelah, walau uang masih mengalir.
- Pelajaran untuk semua: sebelum menaruh sesuatu di atas api, pastikan itu benar-benar ceret.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi Bunbuku Chagama, cerita rakyat Jepang yang dikaitkan dengan kuil Morin-ji di Tatebayashi, Prefektur Gunma.