Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Yu Agung Menjinakkan Banjir

3 menit baca

Yu yang Agung dalam lukisan Ma Lin, pelukis Dinasti Song. Gambar: Ma Lin · Public domain · sumber

Air datang dan tidak surut. Menurut tradisi Tiongkok kuno, pada masa Raja Yao, sungai-sungai besar meluap dan menelan ladang serta desa. Orang-orang mengungsi ke bukit, dan tahun demi tahun air tetap menggenang di dataran.

Seorang bangsawan bernama Gun ditugaskan mengatasinya. Selama sembilan tahun ia membangun tanggul dan bendungan untuk menahan air. Setiap kali tanggul ditinggikan, air naik lebih tinggi, dan ketika jebol, bencananya lebih parah dari sebelumnya. Ia gagal dan dihukum.

Ketika Shun menggantikan Yao, tugas yang sama diserahkan kepada putra Gun, seorang pemuda bernama Yu. Itu tugas yang telah menghancurkan ayahnya, dan ia baru saja menikah.

Yu tidak langsung mulai membangun. Ia berjalan dulu. Berbulan-bulan ia menyusuri sungai dan gunung, mengukur ketinggian tanah dan mengamati ke mana air mengalir dengan sendirinya. Dari perjalanan itu ia memahami kesalahan ayahnya. Air tidak bisa dilawan. Air hanya bisa ditunjukkan jalannya.

Maka ia melakukan yang sebaliknya. Bukan menahan, ia membuka. Bersama ribuan rakyat ia menggali saluran, memperdalam dasar sungai, dan menembus bukit, supaya air mengalir ke sungai yang lebih besar dan akhirnya ke laut. Yu tidak memberi perintah dari tenda. Ia memegang sendiri alat galinya, berjalan di lumpur bersama para pekerja, dan menurut catatan Sima Qian, ia hidup sederhana agar lebih banyak yang bisa dicurahkan untuk pekerjaan itu.

Tiga belas tahun lamanya ia tidak pulang. Tradisi mencatat bahwa ia melewati pintu rumahnya sendiri tiga kali. Pertama kali, terdengar tangis bayinya yang baru lahir. Ia tidak masuk. Ia tahu banyak keluarga lain masih menunggu air surut, dan jika ia masuk, ia mungkin tak sanggup keluar lagi. Tiga kali lewat, tiga kali ia berjalan terus.

Akhirnya sungai-sungai mengalir di alurnya. Rawa-rawa mengering, ladang kembali bisa ditanami, dan orang-orang turun dari bukit. Ingatan akan tugas ini demikian dalam sehingga ia dikenang sebagai Da Yu, Yu yang Agung.

Shun yang sudah tua memilih Yu sebagai penerusnya, melewati putranya sendiri. Menurut tradisi, Yu kemudian mendirikan Dinasti Xia, yang dianggap sebagai dinasti pertama Tiongkok. Sejarawan modern masih terus meneliti seberapa jauh kisah ini berakar pada peristiwa nyata, dan beberapa penelitian geologi mencoba mengaitkannya dengan banjir besar purba di Sungai Kuning. Sejarahnya bisa diperdebatkan, tetapi pelajarannya tidak banyak berubah sejak ribuan tahun lalu.

💖 Pesan Moral

  • Pahami masalah sebelum mengatasinya. Yu berjalan berbulan-bulan sebelum menggali satu parit pun.
  • Kegagalan orang sebelum kita adalah pelajaran. Ia menyelesaikan masalah yang sama dengan cara yang berlawanan dari ayahnya.
  • Kadang yang harus dilakukan adalah mengalirkan, bukan menahan. Berlaku untuk sungai, dan juga untuk perasaan dan persoalan manusia.
  • Pemimpin yang dipercaya ikut berlumpur. Para pekerja bertahan tiga belas tahun karena pemimpinnya berada di antara mereka.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari tradisi Tiongkok kuno tentang Yu, sebagaimana tercatat antara lain dalam Shiji karya Sima Qian dan kitab Mengzi. Keberadaan Yu sebagai tokoh sejarah masih diperdebatkan.