Kuda Tua Mengenal Jalan (老马识途)
Kuda tua kurus karya pelukis Gong Kai, cocok dengan kuda berpengalaman dalam kisah ini. Gambar: Gong Kai · Public domain · sumber
Pasukan negeri Qi berangkat ketika musim semi baru mulai. Adipati Huan memimpin sendiri penyerangan ke negeri Guzhu di utara yang jauh, ditemani dua orang kepercayaannya, Guan Zhong dan Xi Peng. Perang itu memakan waktu berbulan-bulan. Ketika mereka akhirnya berbalik pulang, musim dingin sudah tiba.
Saat berangkat, pepohonan menghijau dan sungai mengalir. Kini semua putih dan beku. Tanda-tanda yang mereka ingat telah lenyap ditimbun salju. Jalan yang tadinya mudah dikenali berubah menjadi lembah-lembah yang serupa satu sama lain. Pasukan itu berputar-putar di pegunungan yang asing, dan para pemandu saling berbantah. Perbekalan menipis, sedangkan angin makin keras.
Adipati Huan bertanya apa yang harus dilakukan. Tidak seorang pun punya jawaban. Guan Zhong lama memandangi barisan kuda yang menggigil. Lalu ia berkata pendek:
“Kecerdasan kuda tua bisa dipakai.”
Orang-orang mengira mereka salah dengar. Kuda tua? Namun perintah dijalankan. Beberapa kuda paling tua, yang telah berkali-kali menempuh jalan itu, dilepas dari tali kekang dan dibiarkan berjalan semaunya. Kuda-kuda itu berdiri sejenak, mengendus angin, lalu mulai melangkah. Seluruh pasukan, dari prajurit sampai sang Adipati, berjalan mengikuti di belakang mereka.
Kuda-kuda itu menemukan jalan keluar.
Beberapa hari kemudian, ketika mereka masih di pegunungan, datang masalah kedua. Air habis. Para prajurit kehausan dan tak ada mata air yang terlihat. Kali ini Xi Peng yang berbicara. Semut, katanya, tinggal di sisi selatan gunung pada musim dingin dan di sisi utara pada musim panas. Di mana ada gundukan sarang semut setinggi satu inci, di bawahnya, sedalam sekitar delapan kaki, ada air.
Para prajurit mencari gundukan semut dan menggali. Mereka menemukan air.
Filsuf Han Feizi, yang mencatat kisah ini, tidak mengakhirinya sampai di situ. Ia menambahkan sebuah renungan yang tajam. Lihatlah, katanya, Guan Zhong yang begitu bijak dan Xi Peng yang begitu pandai. Pada hal-hal yang tidak mereka ketahui, mereka tidak segan belajar dari seekor kuda tua dan segerombol semut. Sementara orang-orang pada zamannya, yang kecerdasannya tidak seberapa, tidak mau belajar dari kebijaksanaan orang-orang arif. Tidakkah itu keliru?
Dari peristiwa ini lahir ungkapan Tionghoa lao ma shi tu, “kuda tua mengenal jalan”. Ungkapan ini masih dipakai untuk memuji orang berpengalaman yang tahu cara melewati keadaan sulit.
💖 Pesan Moral
- Pengalaman adalah pengetahuan yang tidak tertulis di peta. Saat semua tanda hilang, yang pernah menempuh jalan itu tetap tahu arah.
- Jangan meremehkan yang sudah tua. Yang dianggap lambat bisa menjadi satu-satunya penunjuk jalan.
- Orang bijak tidak gengsi belajar. Perdana menteri sebuah negeri besar mau mengikuti kuda dan memperhatikan semut.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kitab Han Feizi (bab Shuo Lin), Tiongkok abad ke-3 SM.