Cao Chong Menimbang Gajah
Gajah putih dalam lukisan Jin Nong, gambaran hewan yang langka di Tiongkok utara. Gambar: Jin Nong · Public domain · sumber
Hadiah itu tiba dari selatan, dan belum pernah ada yang seperti itu di istana Cao Cao. Sun Quan, penguasa wilayah Wu, mengirimkan seekor gajah raksasa. Di utara Tiongkok pada awal abad ke-3, hewan itu menjadi tontonan. Lalu Cao Cao menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar melihatnya. Ia ingin tahu berapa beratnya.
Ia bertanya kepada para pejabatnya. Mereka menggeleng. Tak ada timbangan sebesar itu, dan tak ada orang yang sanggup mengangkat beban seberat itu untuk digantung pada neraca.
Di antara yang hadir ada putra Cao Cao bernama Cao Chong, yang menurut Sanguozhi baru berusia lima atau enam tahun. Catatan itu menyebut bahwa kecerdasan dan pemahamannya sudah seperti orang dewasa. Ia mengajukan sebuah cara.
Taruh gajah di atas perahu besar, katanya, dan tandai batas air pada sisi perahu. Lalu turunkan gajah itu, dan isi perahu dengan benda-benda sampai perahu tenggelam tepat ke batas yang sama. Timbanglah benda-benda itu satu per satu, dan hasilnya adalah berat gajah.
Cao Cao sangat gembira dan langsung memerintahkan agar cara itu dilaksanakan.
Kecerdasan anak itu terletak pada sebuah lompatan pikiran. Benda yang tak bisa ditimbang ia ganti dengan benda-benda yang bisa ditimbang, dan air menjadi alat pembanding di antara keduanya. Para penulis kemudian sering menceritakan kisah ini sebagai contoh prinsip penggantian dalam pelajaran untuk anak-anak.
Yang membuat Cao Chong dikenang orang sezamannya bukan hanya kepintaran. Sanguozhi mencatat bahwa ia penuh belas kasihan. Hukum Cao Cao saat itu sangat keras, dan ketika banyak orang menghadapi hukuman, Cao Chong sering mencari tahu perkaranya dan membantu meringankan mereka.
Satu contoh dicatat secara khusus. Pelana kuda Cao Cao yang disimpan di gudang digigit tikus. Penjaga gudang ketakutan dan berniat mengakui kesalahan, tetapi ia yakin akan dihukum mati. Cao Chong menyuruhnya menunggu tiga hari. Ia melubangi bajunya sendiri dengan pisau supaya tampak seperti digigit tikus, lalu menemui ayahnya dengan wajah murung, dan berkata bahwa menurut orang, baju yang digigit tikus membawa sial bagi pemiliknya. Cao Cao menghiburnya bahwa itu hanya omong kosong. Ketika penjaga gudang kemudian melapor, Cao Cao tertawa. Baju anaknya saja digigit, apalagi pelana yang tergantung di gudang. Orang itu tidak dihukum.
Cao Chong meninggal karena sakit pada tahun 208, dalam usia tiga belas tahun menurut hitungan saat itu. Cao Cao sendiri berdoa untuk kesembuhannya, dan sejarah mencatat dukanya yang amat dalam atas kematian anak itu.
💖 Pesan Moral
- Masalah besar sering bisa dipecah menjadi potongan kecil. Gajah yang mustahil ditimbang berubah menjadi tumpukan benda biasa.
- Ide bagus bisa datang dari yang paling muda. Para pejabat buntu, dan jalan keluarnya datang dari seorang bocah.
- Kecerdasan paling mulia dipakai untuk melindungi orang. Kisah baju berlubang itu sama cerdiknya, dan menyelamatkan nyawa.
Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Cao Chong dalam Sanguozhi (Catatan Tiga Negara) karya Chen Shou.