Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Bukit Merah dan Anak yang Cerdas

3 menit baca

Ikan todak dalam ilustrasi perikanan lama. Moncongnya yang tajam menjadi petaka bagi penduduk pesisir Singapura. Gambar: H. L. Todd · Public domain · sumber

Penduduk pesisir Singapura mengira ombak pagi itu biasa saja, sampai seorang lelaki yang sedang berdiri di tepi air tiba-tiba rebah. Sesuatu telah melesat keluar dari laut dan menembus dadanya.

Dalam hitungan menit, air di sepanjang pantai itu mendidih oleh ikan todak. Ribuan ikan bermoncong tajam seperti pedang melompat dari gelombang, lalu menyambar siapa saja yang berada di pantai. Orang-orang berlarian. Ada yang tertusuk di pundak, dan ada yang tertusuk di perut. Ketika ombak tenang, pantai itu dipenuhi korban.

Kabar itu sampai kepada raja Singapura, Paduka Seri Maharaja. Ia berangkat ke pantai dengan gajahnya, dan tertegun. Serangan datang lagi. Raja memerintahkan rakyat dan prajuritnya berdiri berbaris di tepi laut, menjadikan betis mereka sebagai pagar. Itulah satu-satunya akal yang ada.

Hasilnya mengerikan. Todak-todak itu melompat dan menembus barisan manusia itu. Semakin rapat barisan, semakin banyak yang tertembus. Tak seorang pun berani berkata apa-apa, sebab perintah itu datang dari raja.

Di tengah kekacauan itu seorang anak kecil berkata dengan suara yang cukup keras untuk terdengar.

“Mengapa kita memagari pantai dengan betis? Bukankah lebih baik dengan batang pisang?”

Orang-orang menoleh. Raja menatap anak itu, kemudian memberi perintah. Batang-batang pisang ditebang dari kebun di seluruh pulau, dan diikat berjajar di sepanjang pantai.

Gelombang berikutnya datang. Ikan todak melompat seperti biasa, dan moncong mereka menancap dalam ke batang pisang yang lunak dan berair. Mereka tak bisa melepaskan diri. Ikan-ikan itu menggelepar di tempat, dan penduduk tinggal memukulnya. Pantai yang tadi dipenuhi jeritan kini riuh oleh sorak-sorai.

Serangan itu berakhir. Rakyat mengelu-elukan anak itu, dan raja pun berterima kasih. Namun cerita ini tidak berhenti di sana.

Para pembesar istana mulai berbisik kepada raja. “Baginda, anak sekecil itu saja sudah secerdas ini. Bagaimana bila ia dewasa? Orang-orang akan lebih mendengarkan dia daripada mendengarkan Baginda.”

Bisikan itu bekerja. Raja memerintahkan agar anak itu disingkirkan. Utusan dikirim pada malam hari ke sebuah bukit tempat anak itu tinggal, dan ia dibunuh. Darahnya, menurut cerita, mengalir membasahi tanah sampai merah warnanya.

Sejak itu bukit tersebut disebut Bukit Merah, dan namanya masih dipakai sampai hari ini. Sejarah Melayu tak menyebut nama anak itu. Orang-orang kemudian mengenalnya sebagai Hang Nadim, nama yang lahir dari cerita-cerita sesudahnya.

💖 Pesan Moral

  • Gagasan yang baik tak bergantung pada usia dan pangkat. Dengarkan isinya, jangan cuma memandang siapa yang bicara.
  • Pemimpin yang takut pada kecerdasan orang lain pada akhirnya merusak kerajaannya sendiri.
  • Rasa terima kasih yang tulus tidak bertahan terhadap rasa terancam jika tak dijaga dengan kebesaran jiwa.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah serangan todak dalam Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin), Singapura; rincian dan akhir kisahnya berbeda-beda dalam tradisi lisan.