Mahsuri dari Langkawi
Makam Mahsuri di Langkawi. Papan di depannya mencatat kisah fitnah dan sumpah tujuh keturunan. Gambar: Taufik · CC BY-SA 4.0 · sumber
Di Pulau Langkawi ada sebuah makam putih di tengah taman. Papan di sana mencatat nama Mahsuri binti Pandak Mayah dan tahun kematiannya, 1235 Hijriah, atau 1819 Masihi. Sejarawan masih berdebat tentang rincian hidupnya, tetapi orang Langkawi tak pernah meragukan kisahnya.
Mahsuri lahir dari keluarga sederhana. Orang tuanya, Pandak Mayah dan istrinya, datang dari Phuket mencari penghidupan di pulau itu. Ketika ia dewasa, kecantikannya dikenal di seluruh kampung, begitu pula kelembutan sikapnya. Ia dipinang oleh Wan Darus, putra pembesar setempat.
Tak semua orang gembira. Wan Mahora, ibu mertuanya, konon iri karena suaminya sendiri pernah terpikat pada gadis itu, atau setidaknya merasa tersaingi oleh menantunya. Rumah tangga Mahsuri pun berjalan di bawah tatapan yang dingin.
Tak lama setelah menikah, Wan Darus harus pergi berperang. Langkawi berada di bawah bayang-bayang serangan Siam. Mahsuri tinggal di rumah, mengandung, kemudian melahirkan seorang bayi laki-laki.
Pada masa itu datang seorang pemuda pengembara ke kampung. Ia pandai bersyair, dan Mahsuri mengizinkannya menumpang, mungkin karena merasa kasihan. Ia hanya menanggapi syair dan cerita itu sebagaimana tuan rumah yang sopan. Bagi orang yang sudah lama mencari celah, itu sudah cukup. Bisik-bisik beredar dari pintu ke pintu. Tuduhan kemudian dilontarkan terang-terangan: Mahsuri telah berzina.
Mahsuri bersumpah bahwa ia tidak bersalah. Tak ada yang mendengarkan. Sang suami sedang jauh dan tak ada yang membelanya. Ia dibawa ke tempat hukuman dan diikat, lalu dihukum mati di hadapan orang banyak.
Cerita menyebut para algojo tak mampu melukainya dengan senjata mereka. Akhirnya ia sendiri yang memberitahukan bahwa hanya keris pusaka keluarganya yang dapat mengakhiri hidupnya. Ketika keris itu menembus tubuhnya, yang mengalir adalah darah berwarna putih. Orang-orang yang berkerumun terkesiap, dan menyadari apa yang baru saja mereka lakukan.
Dengan napas terakhir, Mahsuri berucap: pulau ini tidak akan aman dan makmur selama tujuh keturunan.
Tak lama setelah itu pasukan Siam menyerbu. Penduduk membakar lumbung agar padi tak jatuh ke tangan musuh, dan sampai kini orang Langkawi menunjukkan tempat yang disebut Padang Beras Terbakar. Pulau itu lama sekali terpuruk dan sepi.
Baru pada akhir abad ke-20, ketika Langkawi menjadi pelabuhan bebas cukai dan mulai ramai oleh wisatawan, banyak orang berkata tujuh keturunan itu telah berlalu.
💖 Pesan Moral
- Fitnah bergerak lebih cepat daripada kebenaran. Satu bisikan bisa selesai sebelum pembelaan sempat dimulai.
- Hakim yang adil mendengar kedua pihak. Massa yang marah jarang mau menunggu.
- Dosa sebuah masyarakat ditanggung anak cucunya. Diam saat orang tak bersalah dituduh juga ada harganya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda Langkawi, Kedah, Malaysia, tentang Mahsuri binti Pandak Mayah; rincian tokoh dan kejadiannya berbeda-beda antarsumber, dan tanggalnya mengikuti papan di makamnya.