Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Daragang Magayon dan Gunung Mayon

3 menit baca

Gunung Mayon di Albay, yang menurut legenda tumbuh dari makam Magayon dan Panganoron. Gambar: Zaldy Fabia · CC BY 4.0 · sumber

Bila Anda berdiri di dataran Albay pada pagi yang cerah, kerucut Gunung Mayon tampak nyaris sempurna, dan sering kali puncaknya dibelai segumpal awan. Orang Bicol punya penjelasan untuk awan itu. Kisahnya dimulai dari seorang gadis.

Namanya Magayon, yang dalam bahasa Bicol berarti “cantik”, putri tunggal kepala suku Rawis yang bernama Makusog. Ibunya telah meninggal, dan sang ayah menjaganya seperti menjaga nyala terakhir di tungku. Banyak pelamar datang dari seluruh wilayah, tetapi Magayon menolak mereka semua. Yang paling gigih ialah Pagtuga, seorang pemburu dan kepala suku Iraya. Ia kaya dan perkasa, dan tak terbiasa mendengar kata “tidak”.

Pada suatu hari Magayon mandi di Sungai Yawa. Ia terpeleset, dan arus deras menyeretnya. Seorang pemuda asing melompat ke air dan membawanya ke tepi. Pemuda itu Panganoron, putra kepala suku Tagalog dari wilayah yang jauh. Ia datang berkelana, dan sejak hari itu ia tak ingin pergi lagi.

Magayon akhirnya menemukan alasan untuk mengatakan “ya”. Panganoron pulang untuk meminta restu orang tuanya, dan berjanji akan kembali.

Pagtuga mendengar kabar itu dan darahnya mendidih. Selagi Panganoron pergi, ia menculik Makusog. Lalu ia mengirim pesan kepada Magayon: menikahlah denganku, atau ayahmu mati dan sukumu diperangi. Magayon tak punya pilihan. Dengan hati hancur ia menerima lamaran itu, demi nyawa ayahnya.

Hari pernikahan ditetapkan. Pagtuga menyiapkan pesta besar. Namun kabar itu sampai juga kepada Panganoron, dan ia bergegas kembali membawa prajuritnya. Mereka menyerbu tepat ketika pesta berlangsung, dan pertempuran pun pecah.

Panganoron berhasil membunuh Pagtuga. Magayon berlari keluar menyambutnya dengan tangan terbuka. Pada saat itulah sebatang panah nyasar melesat dan menembus tubuhnya. Panganoron memeluknya, dan dalam kekacauan itu seorang pengikut Pagtuga menikamnya dari belakang. Keduanya tewas berpelukan.

Makusog yang telah bebas menguburkan keduanya dalam satu liang. Hari-hari berikutnya, gundukan makam itu terus meninggi. Orang-orang melihatnya tumbuh menjadi bukit, dan dari bukit menjadi gunung, sampai puncaknya menyentuh langit. Mereka menamainya dari nama sang gadis: Mayon.

Bila awan melingkari puncak gunung itu dengan lembut, kata orang Bicol, Panganoron sedang mencium kekasihnya, sebab namanya berarti awan. Dan bila gunung itu bergemuruh dan memuntahkan lahar, seperti yang masih sering terjadi, itu adalah Pagtuga. Namanya berarti “bencana” atau “letusan”. Ia masih berusaha merebut kembali apa yang tak pernah menjadi miliknya.

💖 Pesan Moral

  • Cinta tak bisa dipaksa. Kekuasaan hanya bisa memaksa tubuh seseorang hadir, tetapi tak bisa menyuruh hatinya memilih.
  • Keinginan memiliki yang tak terkendali menghancurkan semuanya, termasuk orang yang katanya dicintai.
  • Yang kita warisi pada akhirnya kisah. Orang Bicol mengenang cinta di puncak dan amarah di perut gunung yang sama.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda Bicol, Filipina, tentang Daragang Magayon; nama tokoh dan akhir kisahnya berbeda-beda antarversi.