Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Thánh Gióng, Anak yang Tumbuh Menjadi Raksasa

3 menit baca

Patung Thánh Gióng di Sóc Sơn, dekat gunung tempat ia terbang ke langit menurut legenda. Gambar: NKSTTSSHNVN · CC BY-SA 4.0 · sumber

Di Desa Phù Đổng, seorang janda tua pernah berjalan ke ladangnya dan melihat bekas telapak kaki raksasa di tanah. Karena penasaran, ia menempelkan kakinya di sana. Tak lama kemudian ia mengandung, dan dua belas bulan berselang lahirlah seorang anak laki-laki.

Anak itu sehat, tetapi sampai usianya tiga tahun, ia tak pernah berbicara, tersenyum, atau berjalan. Ia hanya berbaring menatap langit-langit. Para tetangga memandangnya dengan iba, dan ibunya merawatnya tanpa mengeluh, walau hatinya sedih.

Saat itulah pasukan Ân menyerbu dari utara. Negeri Raja Hùng terdesak. Desa-desa terbakar dan para prajurit mundur. Raja mengutus orang ke seluruh pelosok untuk mencari siapa saja yang sanggup melawan penyerbu.

Utusan itu tiba di Phù Đổng dan berseru di tengah desa. Dari dalam gubuk terdengar suara kecil yang belum pernah didengar siapa pun.

“Ibu, panggil utusan itu kemari.”

Sang ibu menjatuhkan tampahnya. Anak yang selama tiga tahun membisu kini menatapnya dengan jernih. Ketika utusan itu masuk, si anak berkata tanpa gentar, “Pulanglah, dan katakan kepada raja: buatkan aku seekor kuda besi, pedang besi, dan baju zirah besi. Aku akan mengusir musuh.”

Raja memerintahkan para pandai besi bekerja siang dan malam. Sementara itu, sejak hari itu Gióng mulai makan. Ia makan tanpa henti, dan tubuhnya tumbuh begitu cepat sampai setiap baju yang baru dijahit robek esok harinya. Persediaan ibunya segera habis. Maka orang sedesa bergotong royong membawa nasi, sayur, dan kain. Tak seorang pun menghitung siapa memberi berapa, karena semua tahu anak itu membawa harapan mereka.

Ketika kuda besi tiba, Gióng berdiri dan meregangkan tubuhnya. Ia sudah menjadi raksasa. Ia mengenakan zirah, mengambil pedang, lalu melompat ke punggung kuda. Kuda itu meringkik, dan dari mulutnya menyembur api.

Ia menerjang barisan musuh seperti badai. Ketika pedangnya patah, ia mencabut rumpun-rumpun bambu di tepi jalan dan menyapukan batang-batangnya ke arah pasukan Ân. Bambu yang terkena semburan api itu, menurut cerita, berubah warna menjadi kuning keemasan. Musuh pun lari tunggang-langgang.

Setelah semuanya usai, Gióng tidak kembali ke istana untuk menerima hadiah. Ia memacu kudanya ke Gunung Sóc, melepas zirahnya di puncak, lalu terbang ke langit bersama kudanya, dan tak pernah terlihat lagi.

Raja mendirikan kuil untuknya dan menggelarinya Phù Đổng Thiên Vương. Warga Phù Đổng dan Sóc masih merayakan Hội Gióng setiap musim semi, dan pada 2010 festival itu masuk dalam daftar warisan budaya takbenda UNESCO.

💖 Pesan Moral

  • Jangan cepat menilai anak yang lambat. Sebagian orang menunggu saat yang tepat untuk menunjukkan siapa dirinya.
  • Pahlawan dibesarkan oleh banyak tangan. Tubuh raksasa Gióng tumbuh dari nasi seluruh desa.
  • Selesaikan tugas tanpa menagih balasan. Gióng pergi tepat setelah pekerjaannya tuntas.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda Vietnam tentang Thánh Gióng; versi lain berbeda dalam menyebut musuh dan rincian kisahnya.