Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Roro Anteng dan Joko Seger

3 menit baca

Lereng kawah Gunung Bromo, tempat orang Tengger memenuhi janji leluhur setiap tahun. Gambar: Jakub Hałun · CC BY-SA 4.0 · sumber

Setiap tahun, pada bulan Kasada menurut penanggalan mereka, orang Tengger mendaki kawah Gunung Bromo dalam gelap sebelum fajar. Mereka membawa hasil bumi dan melemparkannya ke kawah, sambil berdoa di tengah asap belerang yang naik ke langit pagi. Semua ini, kata mereka, dilakukan untuk menepati janji sepasang leluhur.

Dahulu kala, pada masa akhir Majapahit, seorang putri bernama Roro Anteng menyingkir ke pegunungan di timur Jawa. Di sana ia bertemu Joko Seger, pemuda keturunan seorang brahmana. Keduanya saling mencintai dan menikah, lalu menetap di dataran tinggi itu. Mereka memimpin penduduk di sana. Nama wilayah itu, kata orang, diambil dari akhir nama mereka berdua: Teng dari Anteng dan Ger dari Seger.

Negeri kecil mereka tenang dan subur. Namun bertahun-tahun berlalu, dan mereka tak juga dikaruniai anak. Kesedihan itu makin hari makin terasa di rumah yang sepi.

Mereka naik ke puncak gunung dan bersemadi. Berhari-hari keduanya memohon kepada Sang Hyang Widhi. Akhirnya terdengar suara dari kawah: permohonan mereka akan dikabulkan, tetapi dengan satu syarat. Anak mereka yang bungsu kelak harus dipersembahkan kepada kawah.

Mereka sangat ingin punya anak, dan mereka berjanji.

Anak pertama lahir, lalu yang kedua, dan terus demikian sampai jumlahnya dua puluh lima. Rumah mereka penuh dengan tawa. Anak-anak itu tumbuh sehat, dan Roro Anteng dan Joko Seger merasa bahagia. Janji di puncak gunung pelan-pelan mereka sisihkan dari pikiran. Anak bungsu mereka, Kusuma, tumbuh menjadi anak yang disayangi semua orang.

Tiba-tiba gunung mulai bergemuruh. Asap hitam mengepul, tanah berguncang, dan api muncul dari kawah. Suara itu datang lagi, menagih janji. Pasangan tua itu ketakutan. Mereka mencoba melarikan Kusuma dan menyembunyikannya, tetapi kobaran api mengejar ke mana pun mereka pergi.

Dalam peristiwa itu Kusuma lenyap ditelan kawah. Di tengah gemuruh itu terdengar suaranya, tenang dan jelas, berbicara kepada keluarganya. Ia berkata bahwa ia rela, demi keselamatan orang tua, saudara-saudaranya, dan seluruh rakyat. Ia berpesan agar mereka hidup rukun dan setiap tahun membawa sebagian hasil bumi ke kawah pada bulan Kasada.

Gunung pun kembali tenang. Saudara-saudara Kusuma memenuhi pesan itu, lalu anak cucu mereka meneruskannya. Sampai kini orang Tengger melakukannya dalam upacara Yadnya Kasada. Di lereng kawah, sebagian warga menunggu dengan jaring untuk menangkap persembahan yang dilempar, dan pegunungan itu terus menjadi rumah mereka.

💖 Pesan Moral

  • Janji saat susah tetap berlaku saat senang. Roro Anteng dan Joko Seger lupa pada kata-kata mereka ketika hidup sudah penuh.
  • Ketenangan keluarga kadang lahir dari pengorbanan seseorang. Kusuma mengingatkan kita menghargai pengorbanan itu.
  • Syukur perlu diwujudkan. Orang Tengger menjadikan terima kasih sebagai pekerjaan tahunan, yang tak pernah mereka lewatkan.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda orang Tengger, Gunung Bromo, Jawa Timur, yang menjadi asal-usul upacara Yadnya Kasada; salah satu versi.