Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Ni Diah Tantri Bercerita untuk Sang Raja

3 menit baca

Relief cerita Tantri di Candi Penataran, Jawa Timur; kisah-kisah binatang Ni Diah Tantri diabadikan pada batu. Gambar: Michael Gunther · CC BY-SA 4.0 · sumber

Raja Eswaryadala memerintah negeri Patali dengan satu kebiasaan yang membuat rakyat ketakutan. Setiap hari ia menikahi seorang gadis baru. Setiap hari pula Patih Bandeswarya, abdinya yang setia, harus mencarikan pengantin untuk tuannya. Lama-kelamaan tak ada lagi gadis yang tersisa di negeri itu, dan orang tua yang punya anak perempuan hidup dalam cemas.

Pada suatu hari sang patih pulang dengan wajah pucat. Tak ada satu pun gadis lagi untuk dipersembahkan, kecuali putrinya sendiri. Putrinya itu, Ni Diah Tantri, cantik dan cerdas, dan sejak kecil sudah akrab dengan banyak kitab.

Melihat ayahnya bersedih, Ni Diah Tantri bertanya apa yang terjadi. Setelah mendengar jawabannya, ia tidak menangis. “Ayah, antarkan aku kepada raja,” katanya. “Biar aku yang menghentikan semua ini.”

Sang patih menatap putrinya tak percaya. Tetapi tak ada pilihan lain.

Malam itu, di dalam bilik raja, Ni Diah Tantri tidak gemetar. Ia duduk dengan tenang dan bertanya apakah Baginda sudi mendengarkan sebuah cerita.

Karena penasaran, raja mengangguk. Ni Diah Tantri mulai bercerita tentang Nandaka, seekor lembu yang bersahabat dengan singa bernama Candapinggala, dan tentang serigala licik yang mengadu domba keduanya. Dari situ cerita bercabang. Di dalam satu kisah ada kisah lain. Seekor binatang bercerita kepada binatang yang lain, dan tokoh dalam cerita itu pun bercerita lagi. Ada burung, kera, ular, dan kura-kura, dan masing-masing membawa pelajaran.

Ketika malam hampir habis, kisah itu belum selesai. Raja, yang terbiasa bosan pada segala hal, kini ingin tahu kelanjutannya.

“Besok malam, lanjutkan,” perintahnya.

Malam berikutnya Ni Diah Tantri bercerita lagi, dan malam berikutnya lagi. Hari demi hari berganti, dan raja lupa mencari pengantin baru. Dalam setiap cerita, tanpa pernah menggurui, sang putri menyelipkan cermin. Ada kisah tentang pemimpin yang diperalat nafsunya, tentang sahabat yang hancur karena hasutan, tentang penguasa yang kehilangan segalanya karena tak mau mendengar. Raja mendengarkan semua itu sebagai dongeng binatang, tetapi perlahan ia mulai mengenali dirinya sendiri.

Pada satu titik ia berhenti bertanya bagaimana cerita itu berakhir, dan mulai bertanya apa yang seharusnya dilakukan seorang raja.

Kebiasaan buruk itu berhenti. Rakyat bisa bernapas lega, dan raja memerintah dengan lebih adil. Cerita-cerita Ni Diah Tantri terus disalin di lontar, dinyanyikan sebagai kidung, dan dipahat pada dinding candi. Sampai kini, reliefnya masih bisa dilihat di Jawa, dan satua Tantri masih diceritakan kepada anak-anak Bali.

💖 Pesan Moral

  • Kecerdasan bisa lebih ampuh daripada keberanian saja. Ni Diah Tantri menghadapi kekuasaan dengan satu senjata: kata-kata.
  • Kritik lebih mudah diterima lewat cerita. Orang keras kepala kadang hanya bisa melihat dirinya dalam cermin yang tidak ia sadari.
  • Membaca adalah bekal hidup. Kitab-kitab yang dipelajari sejak kecil itulah yang menyelamatkan sebuah negeri.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah bingkai Tantri Kamandaka, sastra Jawa-Bali yang berakar pada tradisi Pancatantra India. Ejaan nama tokoh berbeda antarnaskah.