Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Seikat Ranting

2 menit baca

Pesan terakhir sang ayah kepada anak-anaknya. Ilustrasi J. J. Grandville (1838). Gambar: J. J. Grandville · Public domain · sumber

Seorang petani tua mempunyai beberapa anak laki-laki. Mereka semua rajin bekerja dan sehat, tetapi ada satu hal yang selalu membuat hati sang ayah sedih: mereka tidak pernah akur.

Setiap hari ada saja yang mereka ributkan. Siapa yang paling banyak bekerja, siapa yang mendapat bagian lebih besar, siapa yang paling benar. Pertengkaran kecil sering berubah menjadi teriakan, dan teriakan sering berakhir dengan saling diam berhari-hari.

Sang ayah sudah berkali-kali menasihati mereka, tetapi kata-katanya seperti angin lalu. Ia tahu umurnya tidak lama lagi, dan ia khawatir apa yang akan terjadi pada anak-anaknya setelah ia tiada.

Suatu sore, ia memanggil semua anaknya berkumpul. “Pergilah ke kebun,” katanya, “dan bawakan aku seikat ranting kayu.”

Anak-anaknya heran, tetapi mereka menurut. Tak lama kemudian, si sulung kembali membawa seikat ranting yang diikat erat dengan tali.

Sang ayah menyerahkan ikatan ranting itu kepada anak sulungnya. “Coba patahkan ikatan ini.”

Si sulung memegangnya dengan kedua tangan dan menekuknya sekuat tenaga. Wajahnya memerah, lengannya gemetar, tetapi ikatan ranting itu tidak patah sedikit pun. Ia menyerahkannya kepada adiknya. Si adik mencoba menekuknya dengan lutut, tetapi gagal juga. Satu per satu mereka mencoba, dan tidak seorang pun berhasil.

“Tidak mungkin, Ayah,” kata si bungsu. “Ikatan ini terlalu kuat.”

Sang ayah tersenyum. Ia mengambil ikatan itu, membuka talinya, lalu memberikan sebatang ranting kepada masing-masing anaknya. “Sekarang, patahkan ranting kalian.”

Krek! Krek! Krek! Dalam sekejap, semua ranting patah dengan mudah.

Anak-anak itu saling pandang. Sang ayah lalu berkata dengan suara lembut tetapi tegas:

“Anak-anakku, kalian ini seperti ranting-ranting itu. Kalau kalian bersatu, saling membantu, dan saling menjaga, tidak ada yang bisa mematahkan kalian, sebesar apa pun masalah yang datang. Tetapi kalau kalian terus bertengkar dan berjalan sendiri-sendiri, siapa pun bisa mematahkan kalian satu per satu, semudah ranting tadi.”

Ruangan itu menjadi hening. Anak-anaknya menunduk. Untuk pertama kalinya, mereka benar-benar mengerti apa yang selama ini ingin disampaikan ayah mereka.

Sejak hari itu, setiap kali mulai berselisih, salah satu dari mereka akan mengambil sebatang ranting, mematahkannya pelan-pelan, lalu tersenyum. Pertengkaran pun reda sebelum sempat membesar.

💖 Pesan Moral

  • Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.
  • Keluarga dan tim yang kompak jauh lebih kuat daripada individu yang hebat tetapi berjalan sendiri-sendiri.
  • Perbedaan pendapat itu wajar, tetapi jangan biarkan pertengkaran memecah persatuan.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop (Yunani kuno), “Ayah dan Anak-anaknya” (The Bundle of Sticks), yang juga digubah oleh Jean de La Fontaine dalam “Le Vieillard et ses Enfants”.