Tikus Kota dan Tikus Desa
Pesta mewah yang selalu diwarnai ketakutan. Ilustrasi Milo Winter (1919). Gambar: Milo Winter · Public domain · sumber
Di sebuah ladang gandum di pedesaan, tinggallah seekor tikus desa. Rumahnya sederhana: sebuah liang kecil di bawah akar pohon, beralaskan jerami kering. Makanannya pun sederhana, berupa biji-bijian, akar, dan sesekali sepotong keju yang jatuh dari keranjang petani.
Suatu hari, sepupunya yang tinggal di kota datang berkunjung. Tikus kota itu berpakaian rapi, berbicara dengan gaya yang halus, dan berjalan dengan dagu sedikit terangkat.
Tikus desa menyambutnya dengan gembira. Ia menyajikan semua yang terbaik yang ia miliki: biji gandum, kacang, dan sepotong kecil keju yang sudah lama ia simpan untuk acara istimewa.
Tikus kota mencicipi makanan itu dengan ujung giginya, lalu mengernyitkan hidung. “Sepupuku yang malang,” katanya, “bagaimana kamu bisa hidup seperti ini? Makanan seadanya, rumah yang sempit, tidak ada hiburan. Ikutlah aku ke kota. Akan kutunjukkan kepadamu bagaimana hidup yang sebenarnya.”
Tikus desa merasa sedikit malu dengan rumahnya, tetapi juga penasaran. Malam itu juga, mereka berangkat ke kota.
Rumah tikus kota berada di dalam dinding sebuah rumah besar milik orang kaya. Tengah malam, mereka mengendap-endap ke ruang makan. Tikus desa ternganga. Di atas meja panjang terhampar sisa-sisa pesta: roti lembut, keju berbagai jenis, kue-kue manis, buah-buahan, dan daging panggang.
“Makanlah sepuasnya,” kata tikus kota bangga.
Baru saja tikus desa menggigit sepotong kue, pintu ruang makan terbuka dengan keras. Para pelayan masuk sambil membawa lampu. Kedua tikus itu melompat dan berlari terbirit-birit ke dalam lubang di dinding, jantung mereka berdegup kencang.
Setelah suasana kembali sepi, mereka keluar lagi. Tetapi belum sempat mengunyah, terdengar gonggongan keras. Dua ekor anjing besar berlari masuk, mengendus-endus di bawah meja. Sekali lagi mereka lari menyelamatkan diri, kali ini nyaris tertangkap.
Dari dalam lubang yang gelap, tikus desa gemetar. Lalu terdengar suara yang lebih menakutkan: langkah lembut seekor kucing yang sedang berpatroli di sepanjang dinding.
Tikus desa mengambil keputusan. Ia mengumpulkan barang-barangnya dan berpamitan.
“Terima kasih atas undanganmu, Sepupu,” katanya. “Makananmu memang lezat dan rumahmu memang mewah. Tapi aku lebih memilih makan biji gandum dengan tenang daripada makan kue sambil ketakutan setengah mati.”
Ia pun pulang ke ladangnya. Malam itu, di liangnya yang sederhana, ia tidur lebih nyenyak daripada sebelumnya.
💖 Pesan Moral
- Hidup sederhana yang tenang lebih berharga daripada kemewahan yang penuh kecemasan.
- Setiap gaya hidup ada harganya. Jangan iri sebelum tahu apa yang harus dibayar di baliknya.
- Kebahagiaan bukan soal apa yang ada di meja, melainkan soal hati yang damai saat menikmatinya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop (Yunani kuno), “Tikus Kota dan Tikus Desa”, yang juga digubah oleh penyair Romawi Horatius dan oleh Jean de La Fontaine dalam “Le Rat de ville et le Rat des champs”.