Gadis Pemerah Susu dan Embernya
Kendi pecah, angan-angan pun buyar. Ukiran Gustave Doré (1867). Gambar: Gustave Doré · Public domain · sumber
Pada suatu pagi yang cerah, seorang gadis pemerah susu berjalan menuju pasar. Di atas kepalanya, ia menjunjung seember penuh susu segar yang baru saja diperahnya dari sapi. Langkahnya ringan, dan hatinya berbunga-bunga.
Sepanjang perjalanan, ia mulai melamun.
“Susu ini akan kujual di pasar,” pikirnya. “Dengan uangnya, aku akan membeli telur. Kalau telur-telur itu kuserahkan untuk dierami induk ayam, nanti menetas menjadi anak-anak ayam.”
Ia tersenyum sendiri dan terus berjalan.
“Anak-anak ayam itu akan kubesarkan dengan baik. Kalau sudah besar, akan kujual di pasar. Harganya pasti lumayan, apalagi menjelang hari raya. Dengan uangnya, aku bisa membeli seekor anak babi.”
Langkahnya semakin cepat. Matanya menerawang jauh.
“Anak babi itu akan kugemukkan. Lalu kujual, dan dengan uangnya aku akan membeli seekor anak sapi. Anak sapi itu akan tumbuh menjadi sapi, dan sapi itu akan beranak pinak. Lama-lama aku akan punya kawanan sapi sendiri!”
Ia hampir tertawa karena gembira.
“Kalau sudah kaya, aku akan membeli gaun baru yang paling cantik. Gaun hijau dengan pita di pinggang. Aku akan memakainya ke pesta di desa. Semua pemuda pasti ingin berdansa denganku. Tetapi aku tidak akan langsung menerima ajakan mereka. Aku akan mengangkat kepalaku tinggi-tinggi, lalu menggelengkan kepala dengan anggun, seperti ini…”
Dan tanpa sadar, ia benar-benar mengangkat dagunya dan menggelengkan kepalanya dengan angkuh.
Ember susu di atas kepalanya pun oleng. Sebelum ia sempat menangkapnya, ember itu jatuh ke tanah. Brak! Seluruh susu tumpah, membasahi jalan berdebu, lalu meresap ke dalam tanah.
Gadis itu terpaku menatap genangan putih di kakinya. Dalam sekejap, semuanya hilang: telur, anak ayam, anak babi, sapi, gaun hijau, dan pesta di desa. Semua yang tadi terasa begitu nyata, ternyata hanya ada di dalam kepalanya.
Ia pulang dengan ember kosong. Ketika ibunya bertanya apa yang terjadi, ia menceritakan semuanya sambil menangis. Ibunya hanya tersenyum lembut dan berkata, “Anakku, jangan menghitung anak ayam sebelum telurnya menetas.”
💖 Pesan Moral
- Jangan menghitung hasil sebelum benar-benar ada di tangan.
- Bermimpi itu baik, tetapi tetaplah menjejak bumi dan fokus pada langkah yang sedang dijalani.
- Kesombongan, bahkan yang hanya dalam angan-angan, bisa membuat kita lengah dan kehilangan segalanya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel “Gadis Pemerah Susu dan Embernya”, yang sering dikaitkan dengan Aesop meskipun versi tertulisnya baru muncul pada Abad Pertengahan; terkenal lewat gubahan Jean de La Fontaine, “La Laitière et le Pot au lait”.