Rubah dan Gagak
Rubah merayu gagak yang memegang keju. Ilustrasi J. J. Grandville (1838). Gambar: J. J. Grandville · Public domain · sumber
Seekor burung gagak baru saja menemukan rezeki besar. Ia melihat sepotong keju tergeletak di ambang jendela sebuah rumah, menyambarnya dengan cepat, lalu terbang ke dahan pohon yang tinggi untuk menikmatinya.
Di bawah pohon itu, seekor rubah sedang lewat. Hidungnya langsung menangkap aroma keju. Ia mendongak dan melihat gagak bertengger dengan keju di paruhnya.
“Keju itu harus jadi milikku,” pikir rubah. Tetapi ia tidak bisa memanjat pohon setinggi itu. Maka ia memutuskan untuk menggunakan senjatanya yang paling ampuh: lidahnya.
Ia duduk di bawah pohon, memasang wajah paling ramah, lalu berkata dengan suara manis, “Selamat siang, Nona Gagak yang cantik! Aduh, betapa indahnya penampilanmu hari ini.”
Gagak melirik ke bawah, curiga. Ia tidak menjawab. Paruhnya tetap mengatup erat.
Rubah tidak menyerah. “Lihatlah bulumu itu, hitam berkilau seperti sutra di bawah sinar matahari. Matamu bercahaya seperti permata. Dan sayapmu, begitu gagah! Sungguh, kamulah burung paling menawan di seluruh hutan ini.”
Gagak mulai merasa senang. Ia menegakkan badannya, merapikan bulu-bulunya, dan sedikit mengangkat kepala.
“Hanya saja,” lanjut rubah sambil menghela napas pura-pura, “aku belum pernah mendengar suaramu. Burung secantik kamu pastilah punya suara yang merdu sekali. Kalau suaramu seindah penampilanmu, kamu pantas disebut ratu dari segala burung. Maukah kamu bernyanyi sedikit untukku?”
Gagak tidak tahan lagi. Ia ingin membuktikan bahwa ia memang ratu segala burung. Ia membuka paruhnya lebar-lebar dan berkoak sekeras-kerasnya: “Kaaak! Kaaak!”
Dan pada saat itu juga, keju di paruhnya jatuh ke bawah.
Rubah dengan sigap menangkapnya sebelum menyentuh tanah. Ia menggigit keju itu, lalu mendongak sambil tersenyum lebar.
“Terima kasih, Nona Gagak,” katanya. “Suaramu memang ada, tapi akalmu yang tidak ada. Ingatlah ini: setiap perayu hidup dari orang yang mau mendengarkan rayuannya. Pelajaran ini tentu sepadan dengan sepotong keju.”
Lalu rubah berlari pergi, meninggalkan gagak yang termangu di dahan, malu dan lapar, sambil bersumpah dalam hati bahwa ia tidak akan tertipu lagi oleh kata-kata manis.
💖 Pesan Moral
- Waspadalah terhadap pujian yang berlebihan, terutama dari orang yang menginginkan sesuatu darimu.
- Perayu hidup dari kesombongan orang yang dirayunya. Kerendahan hati adalah pelindung terbaik.
- Jangan biarkan keinginan untuk dikagumi membuatmu melepaskan apa yang berharga.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop (Yunani kuno), “Rubah dan Gagak”, yang terkenal lewat gubahan Jean de La Fontaine, “Le Corbeau et le Renard” (1668), fabel pertama dalam kumpulannya.