Putri Junjung Buih
Tiang Mahligai Putri Junjung Buih di kompleks Candi Agung, Amuntai. Gambar: Ilham Mufti Laksono · CC BY-SA 4.0 · sumber
Ampu Jatmika, pendatang dari negeri Keling, mendirikan Kerajaan Negara Dipa di tanah Kalimantan bagian selatan. Negerinya makmur, tetapi satu hal mengganjal hatinya. Ia bukan keturunan raja. Ia sadar, bahkan patung-patung yang ia dirikan di candi kerajaannya tidak mengubah kenyataan itu. Kelak, pesannya kepada kedua putranya, carilah raja yang sejati bagi negeri ini.
Setelah ia wafat, pesan itu dipegang oleh putranya, Lambung Mangkurat. Ia tidak mau naik takhta, dan ia juga tidak tahu dari mana raja yang sejati akan datang. Maka ia melakukan apa yang biasa dilakukan orang pada masa itu saat buntu. Ia pergi balampah, bertapa, mencari petunjuk.
Bertapa di sungai bukan perkara mudah. Berhari-hari ia berada di atas rakit, membiarkan arus membawanya. Tidak makan dengan layak, tidak tidur dengan nyaman, hanya menunggu.
Pada suatu hari, air di hadapannya mulai bergolak. Buih putih berkumpul dan membesar. Dari tengah buih itu muncullah seorang gadis, cantik luar biasa, berdiri di atas air seolah mengangkat buih di atas kepalanya.
Lambung Mangkurat terpaku. Ia merasa telah menemukan yang dicarinya. Dengan hormat, ia mengajak gadis itu naik ke daratan.
Gadis itu tidak langsung menurut. Ia berkata bahwa ia baru mau naik bila syarat-syaratnya dipenuhi.
“Tenunkan aku kain langgundi oleh empat puluh gadis. Dirikan sebuah balai yang indah oleh empat puluh pemuda. Setelah itu, jemputlah aku.”
Lambung Mangkurat kembali dan mengerahkan orang-orangnya. Gadis-gadis menenun dan pemuda-pemuda bekerja, seluruh negeri ikut sibuk. Tak lama kemudian kain itu selesai dan balainya berdiri.
Barulah sang putri naik ke darat, disambut rakyat Negara Dipa. Ia diberi nama Putri Junjung Buih, sebab ia muncul menjunjung buih. Lambung Mangkurat mengangkatnya menjadi ratu, sementara ia sendiri tetap menjadi mangkubumi, orang yang bekerja di belakang takhta.
Keputusan itu layak dipikirkan. Lambung Mangkurat berkuasa, dicintai, dan tidak ada yang akan membantah bila ia menobatkan dirinya sendiri. Ia memilih sebaliknya.
Masih ada satu urusan: sang ratu memerlukan pendamping. Ia sendiri punya permintaan yang tidak bisa dipenuhi lelaki sembarangan. Lambung Mangkurat mencari sampai ke seberang laut, ke Majapahit, dan dari sana datanglah Pangeran Suryanata, yang kisahnya pun penuh keajaiban. Dari perkawinan mereka lahir raja-raja yang memerintah tanah Banjar turun-temurun.
Di Amuntai, Kalimantan Selatan, reruntuhan Candi Agung masih bisa dikunjungi. Orang datang ke sana untuk mengenang Negara Dipa, dan sebuah bangunan terbuka di sana menjadi pengingat akan putri yang muncul dari buih. Dalam tradisi Banjar, ia dipandang sebagai ibu dari para raja mereka.
💖 Pesan Moral
- Mengenali batas diri adalah kebesaran. Lambung Mangkurat bisa saja merebut takhta, tetapi ia menjaga pesan ayahnya.
- Hal yang dicari kadang menuntut kesabaran panjang. Jawaban itu datang setelah ia menunggu lama di atas rakit.
- Kehormatan perlu dibangun dengan kerja bersama. Sang putri meminta kain dan balai dari tangan rakyat, sehingga penyambutannya menjadi milik semua orang.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah dalam Hikayat Banjar, Kalimantan Selatan, salah satu versi yang dituturkan turun-temurun.