Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Bujang Katak

3 menit baca

Cetakan kayu bunga dan katak, sekadar pengingat akan tokoh kita. Gambar: Tsukioka Kōgyo · Public domain · sumber

Seorang nenek tua hidup sebatang kara di sebuah gubuk. Ia menggarap sepetak ladang untuk makan sehari-hari, dan pada malam hari hanya suara jangkrik yang menemaninya. Berulang kali ia berdoa agar diberi seorang anak, siapa pun itu, asal ada yang bisa ia sayangi.

Doa itu terkabul dengan cara yang tidak ia duga. Ia mengandung, lalu melahirkan seorang anak yang rupanya mirip sekali dengan katak, sampai kulit di sekujur tubuhnya.

Orang-orang kampung bergunjing. Sang nenek tidak menghiraukan mereka. Ia mendekap anak itu, bersyukur, dan menamainya Bujang Katak.

Bujang Katak tumbuh menjadi anak yang baik. Ia membantu ibunya di ladang, membawa air, dan memijat kaki ibunya kalau malam. Ia juga suka mendengar cerita ibunya tentang istana dan ketujuh putri raja. Saat dewasa, ia mengutarakan keinginan yang membuat ibunya hampir menjatuhkan sendok.

“Bu, aku ingin melamar salah satu putri raja.”

Sang nenek memandang anaknya lama-lama. Ia bisa saja menertawakannya. Ia bisa saja berkata jujur tentang rupa dan kemiskinan mereka. Tetapi ia hanya mengambil tudungnya.

“Baiklah. Ayo kita ke istana.”

Raja menerima tamu yang aneh itu dengan sopan. Karena tidak mau memutuskan sendiri, ia memanggil ketujuh putrinya. Enam putri melihat Bujang Katak dan menolaknya mentah-mentah. Ada yang mencibir, ada yang menutup hidung, ada yang tertawa keras. Mana mungkin mereka bersuami orang miskin yang buruk rupa?

Bujang Katak menunduk dalam-dalam. Ia sudah bersiap pulang.

Lalu si bungsu, yang paling cantik dan paling lembut hatinya, menatapnya sebentar dan berkata pelan bahwa ia menerima lamaran itu.

Ruangan menjadi sunyi. Sang raja terperanjat. Ia tidak mau melepas putri kesayangannya kepada makhluk seperti itu, tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan persetujuan putrinya. Maka ia mengajukan syarat yang mustahil.

“Baik. Dirikanlah sebuah jembatan dari rumahmu sampai ke istanaku. Barulah kau boleh menikahi putriku.”

Bujang Katak menyanggupi. Ibunya menggeleng-geleng sepanjang jalan pulang. Mereka bahkan tidak punya uang untuk memperbaiki atap gubuk.

“Bagaimana kau akan melakukannya, Nak?”

“Aku tidak tahu, Bu,” jawabnya jujur. “Aku serahkan saja kepada Yang Maha Kuasa.”

Malam itu ia berdoa sungguh-sungguh. Di tengah malam, tubuhnya terasa panas. Kulit katak yang membungkusnya sejak lahir mulai mengelupas. Saat fajar menyingsing, sang nenek terbangun dan menjerit tertahan. Di lantai gubuknya berdiri seorang pemuda tampan, dan di dekat kakinya bertumpuk kulit lama yang kini telah berubah menjadi emas.

Dengan emas itu dibangunlah sebuah jembatan dari gubuk tua sampai ke gerbang istana. Raja menepati janjinya, dan si bungsu menikah dengan Bujang Katak di tengah pesta besar. Keenam kakaknya hanya bisa saling berpandangan.

Sang putri tidak pernah tahu lebih dulu bahwa semua itu akan terjadi. Ketika berkata ya, yang ia lihat hanyalah seorang pemuda buruk rupa yang berani datang dengan jujur bersama ibunya.

💖 Pesan Moral

  • Kasih ibu tidak menunggu anaknya sempurna. Sang nenek bersyukur sejak hari pertama, jauh sebelum ada emas.
  • Jangan menilai orang dari kulitnya. Kali ini kata itu berlaku secara harfiah.
  • Ketulusan terlihat oleh orang yang mau melihat. Si bungsu memilih tanpa jaminan apa pun.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi cerita rakyat Bangka Belitung, yang juga dikenal di Sumatra Selatan. Syarat raja dan rincian kisahnya berbeda antarpenutur.