Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Putri Pukes yang Menoleh ke Belakang

3 menit baca

Danau Laut Tawar di Takengon, tempat kisah Putri Pukes berlatar. Gambar: Mukhtar Juned · CC BY-SA 4.0 · sumber

Di tepi Danau Laut Tawar, Takengon, ada sebuah gua kecil yang sering didatangi orang. Di dalamnya ada sebongkah batu yang diyakini warga sebagai sosok seorang pengantin perempuan. Orang Gayo menyebutnya Putri Pukes.

Dahulu ia adalah putri seorang raja di Tanah Gayo, anak yang amat disayangi kedua orang tuanya. Ketika dewasa, hatinya tertambat pada seorang pangeran dari kerajaan yang jauh.

Sang raja menggeleng. Bukan karena pangeran itu buruk, tetapi karena kerajaannya terlalu jauh. Bila putrinya menikah dan ikut suami, entah kapan mereka bisa bertemu lagi.

Putri Pukes tidak menyerah. Berulang kali ia membujuk ayah dan ibunya, dengan tutur lembut dan air mata. Lama-kelamaan hati orang tuanya luluh. Pernikahan pun dilangsungkan, dan tibalah hari yang mereka takutkan sejak awal: sang putri harus berangkat ke negeri suaminya.

Pagi itu ibunya memeluknya lama di halaman, lalu berbisik di telinganya.

“Pergilah bersama suamimu, Nak. Tetapi begitu kakimu melangkah keluar dari tanah ini, jangan sekali-kali menoleh ke belakang.”

Tidak dijelaskan mengapa. Mungkin sang ibu tahu bahwa orang yang pergi harus benar-benar pergi. Putri Pukes mengangguk dan berjanji.

Rombongan bergerak perlahan menyusuri kaki bukit. Sang putri berjalan di samping suaminya, matanya lurus ke depan. Satu bukit terlewati, lalu satu lagi. Namun semakin jauh ia melangkah, semakin berat dadanya. Ia teringat suara ayahnya, tangan ibunya yang menyisir rambutnya, dan bau asap dapur di rumahnya.

Tanpa ia sadari, kepalanya berpaling. Hanya sekejap ia memandang tanah kelahirannya di kejauhan.

Petir menyambar. Langit yang tadinya terang menjadi gelap, dan hujan turun sangat deras. Rombongan berlari mencari tempat berteduh dan masuk ke sebuah gua. Para pengawal menyalakan api agar semua orang bisa menghangatkan diri.

Saat duduk di dekat api itu, Putri Pukes merasakan sesuatu yang aneh. Kakinya berat dan dingin. Ia mencoba menggerakkannya, dan tidak bisa. Dengan ketakutan ia meraba pahanya: kulitnya mengeras seperti batu.

Saat itulah ia teringat bisikan ibunya. Ia tahu apa yang telah ia lakukan, dan tahu bahwa sudah terlambat. Tidak ada yang bisa ia kerjakan kecuali menangis, sementara rasa dingin itu terus naik.

Hujan akhirnya reda. Sang suami menghampiri untuk mengajaknya melanjutkan perjalanan, dan langkahnya terhenti. Di hadapannya tidak ada lagi istrinya, melainkan sesosok batu.

Menurut cerita orang Gayo, hujan hari itu tidak lekas surut, dan airnya menggenang di lembah. Dalam sebagian tuturan, air mata sang putri ikut di dalamnya. Genangan itulah yang menjadi Danau Laut Tawar yang luas dan tenang.

💖 Pesan Moral

  • Setiap pilihan punya hal yang harus ditinggalkan. Putri Pukes memperjuangkan pilihannya, dan harga pilihan itu baru terasa di tengah jalan.
  • Rindu itu wajar, tetapi janji tetap janji. Satu pelanggaran kecil yang dilakukan tanpa sadar pun bisa berakibat panjang.
  • Dengarkan nasihat orang tua, sekalipun alasannya belum dimengerti. Kadang maknanya baru terlihat saat sudah terlambat.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda Gayo di Takengon, Aceh Tengah. Rincian kisahnya berbeda antarpenutur.