Butet Manurung, Guru di Rimba Jambi
Butet Manurung, pendiri Sokola, guru bagi Orang Rimba. Gambar: Lukman Solihin · CC0 · sumber
Pada akhir tahun 1990-an, seorang perempuan muda lulusan antropologi dan sastra Indonesia dari Universitas Padjadjaran, Bandung, memasuki hutan lebat di kawasan Bukit Duabelas, Jambi. Namanya Saur Marlina Manurung, tetapi orang mengenalnya sebagai Butet Manurung.
Ia datang sebagai pekerja sebuah lembaga konservasi. Di dalam hutan itu tinggal Orang Rimba, masyarakat adat yang hidup berpindah-pindah, berburu, meramu, dan menggantungkan hidup pada hutan. Butet ditugaskan untuk mengenal dan membantu mereka.
Awalnya ia tidak disambut. Orang Rimba curiga kepada orang luar. Pengalaman mereka dengan “orang terang”, sebutan bagi orang dari luar hutan, sering kali pahit. Banyak orang luar yang datang hanya untuk mengambil kayu, membuka lahan, atau berdagang dengan cara yang tidak adil. Selain itu, ada anggapan di sebagian kelompok mereka bahwa belajar baca-tulis adalah hal yang tabu dan bisa mendatangkan malapetaka.
Butet tidak memaksa. Ia memilih tinggal bersama mereka, ikut berpindah dari satu tempat ke tempat lain, belajar bahasa mereka, makan apa yang mereka makan, dan menghormati adat mereka. Butuh waktu berbulan-bulan sampai ia diterima.
Dari kehidupan sehari-hari itu, Butet melihat masalah yang nyata. Karena tidak bisa membaca dan berhitung, Orang Rimba sering dirugikan saat menjual hasil hutan. Mereka tidak tahu apakah timbangan dan harga yang diberikan pedagang itu jujur. Mereka juga kesulitan memahami surat-surat atau perjanjian yang menyangkut tanah dan hutan mereka.
Perlahan, beberapa anak mulai penasaran dengan buku dan pensil yang dibawa Butet. Ia mulai mengajar mereka membaca, menulis, dan berhitung, di bawah pohon, di dalam pondok, di mana pun mereka berada. Pelajarannya tidak meniru sekolah kota. Ia menggunakan contoh-contoh dari kehidupan mereka sendiri, seperti menghitung hasil buruan atau menimbang getah karet.
Anak-anak yang sudah bisa membaca kemudian mengajari teman dan saudara mereka. Pengetahuan mulai menyebar dari satu kelompok ke kelompok lain, seperti benih yang dibawa angin.
Pada tahun 2003, bersama beberapa rekannya, Butet mendirikan Sokola, sebuah gerakan pendidikan bagi masyarakat adat dan komunitas terpencil. Sokola tidak hanya mengajarkan baca-tulis-hitung, tetapi juga pengetahuan yang membantu masyarakat mempertahankan hak dan cara hidup mereka. Belakangan, Sokola menjangkau komunitas-komunitas lain di berbagai wilayah Indonesia.
Pengalamannya di hutan Jambi ia tuliskan dalam buku Sokola Rimba, yang kemudian diangkat ke layar lebar pada tahun 2013. Pada tahun 2014, Butet Manurung menerima Ramon Magsaysay Award, salah satu penghargaan paling bergengsi di Asia, atas pengabdiannya.
Butet pernah menegaskan bahwa tujuan pendidikan yang ia bawa bukan untuk mengubah Orang Rimba menjadi orang kota, melainkan agar mereka mampu menjaga diri, hutan, dan budaya mereka sendiri.
💖 Pesan Moral
- Pendidikan yang baik dimulai dengan mendengarkan dan menghormati budaya orang yang kita bantu.
- Ilmu adalah alat untuk melindungi diri dari ketidakadilan.
- Satu orang yang tulus bisa menyalakan pelita yang kemudian diteruskan oleh banyak orang.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah nyata pendidik Indonesia Butet Manurung (Saur Marlina Manurung), pendiri Sokola, berdasarkan bukunya Sokola Rimba serta profil resmi Ramon Magsaysay Award Foundation (2014).