Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Pemahat Batu yang Ingin Menjadi Lain

3 menit baca

Pemahat batu di Muntilan: pekerjaan sederhana yang ternyata mampu menaklukkan batu karang. Gambar: Boy Lawson · CC BY-SA 3.0 · sumber

Alkisah, di kaki sebuah gunung hiduplah seorang pemahat batu. Setiap hari ia memecah dan memahat batu dari lereng gunung. Upahnya kecil, tangannya kasar, dan punggungnya sering pegal. Meski begitu, dulu ia bekerja dengan riang.

Suatu hari, ia mengantarkan batu ke rumah seorang saudagar kaya. Di sana ia melihat perabot yang indah, kain sutra, dan tempat tidur yang empuk. Dalam perjalanan pulang, ia mengeluh, “Andai aku kaya seperti saudagar itu, tentu aku tidak perlu bekerja keras lagi.”

Konon ada roh gunung yang mendengar keluhannya. Esok paginya, sang pemahat terbangun di rumah mewah. Ia telah menjadi orang kaya! Ia bersukacita dan menikmati hidupnya.

Tetapi beberapa waktu kemudian, sebuah iring-iringan lewat di depan rumahnya. Seorang raja duduk dalam tandu berlapis emas, dikawal prajurit dan dinaungi payung kebesaran. Semua orang, termasuk orang-orang kaya, harus menunduk. “Ternyata orang kaya pun harus tunduk kepada raja,” pikirnya. “Andai aku menjadi raja.”

Keinginannya terkabul. Ia menjadi raja. Namun di musim kemarau, matahari bersinar sangat terik. Rumput-rumput layu, dan wajahnya terbakar meski dipayungi. “Matahari lebih berkuasa daripada raja,” keluhnya. “Andai aku menjadi matahari.”

Ia pun menjadi matahari. Ia memancarkan panasnya ke mana-mana, sampai sawah kering dan para raja kepanasan. Tetapi suatu hari, segumpal awan tebal datang dan menutupi wajahnya. Sinarnya tidak bisa lagi sampai ke bumi. “Awan lebih kuat daripada matahari! Andai aku menjadi awan.”

Ia menjadi awan. Ia menurunkan hujan deras berhari-hari hingga sungai meluap, desa-desa terendam, dan pohon-pohon tercabut. Namun ada satu hal yang tidak bergeming sedikit pun oleh banjirnya: sebuah batu karang besar di lereng gunung. “Batu karang itu lebih kuat daripada aku. Andai aku menjadi batu.”

Maka ia menjadi batu karang yang perkasa. Matahari tidak bisa membakarnya, hujan tidak bisa menghanyutkannya. Ia merasa bangga.

Sampai suatu hari, ia merasakan sesuatu menusuk tubuhnya. Tak… tak… tak… Sedikit demi sedikit, bagian tubuhnya terlepas. Ia melihat ke bawah, dan di sana berdiri seorang lelaki kecil dengan pahat dan palu, sedang memecah batu dengan tekun.

“Apa? Ada yang lebih kuat daripada batu karang? Seorang pemahat batu?” serunya. “Andai aku menjadi pemahat batu!”

Dan ia pun kembali menjadi dirinya sendiri: seorang pemahat batu dengan tangan kasar dan upah sederhana. Sejak hari itu, ia bekerja dengan gembira, dan tidak pernah lagi ingin menjadi orang lain.

💖 Pesan Moral

  • Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau, padahal setiap kedudukan punya kelemahan dan bebannya sendiri.
  • Kebahagiaan tidak datang dari menjadi orang lain, tetapi dari menerima dan menghargai siapa diri kita.
  • Setiap peran punya kekuatannya; yang sederhana pun bisa mengubah gunung, sedikit demi sedikit.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng “Pemahat Batu” yang dimuat Multatuli (Eduard Douwes Dekker) dalam novel Max Havelaar (1860), di mana kisah ini disebut berasal dari Jepang; kemudian dikenal luas sebagai dongeng “The Stonecutter”.