Dua Serigala dalam Diri
Dua serigala dalam diri kita: yang menang adalah yang kita beri makan. Gambar: zoofanatic · CC BY 2.0 · sumber
Senja mulai turun ketika seorang kakek duduk di beranda bersama cucunya. Sore itu si cucu pulang dari sekolah dengan wajah muram. Seorang teman telah mempermalukannya di depan kelas, dan sepanjang perjalanan pulang ia memikirkan cara untuk membalas.
Sang kakek mendengarkan seluruh ceritanya tanpa memotong. Setelah cucunya selesai, ia menghela napas panjang.
“Kakek juga pernah merasakan hal yang sama,” katanya. “Bahkan sampai sekarang, di dalam diri Kakek ada sebuah pertarungan. Pertarungan antara dua ekor serigala.”
Si cucu mengangkat wajahnya. “Dua serigala?”
“Ya. Serigala yang pertama itu jahat. Ia penuh amarah, iri hati, dendam, kesombongan, rasa mengasihani diri sendiri, kebohongan, dan rasa ingin menang sendiri. Setiap kali ada yang menyakiti kita, serigala ini menggeram dan ingin menggigit.”
“Serigala yang kedua itu baik. Ia penuh sukacita, kedamaian, kasih, harapan, kerendahan hati, kebaikan, kejujuran, dan rasa syukur. Ia ingin memahami, memaafkan, dan menolong.”
Kakek itu menatap cucunya dalam-dalam. “Pertarungan yang sama juga terjadi di dalam dirimu, Nak. Dan di dalam diri setiap orang.”
Si cucu termenung cukup lama. Lalu ia bertanya dengan suara pelan, “Kek, serigala mana yang akan menang?”
Sang kakek tersenyum dan menjawab dengan sederhana:
“Yang kamu beri makan.”
Si cucu terdiam. Ia mulai mengerti. Setiap kali ia memutar ulang kejadian memalukan tadi di kepalanya, merencanakan balasan, dan memupuk rasa bencinya, ia sedang memberi makan serigala yang pertama. Setiap kali ia memilih menenangkan diri, mencoba memahami temannya, atau mengingat hal-hal baik yang ia miliki, ia sedang memberi makan serigala yang kedua.
Malam itu, sebelum tidur, ia memutuskan untuk tidak lagi memikirkan pembalasan. Besok ia akan berbicara baik-baik dengan temannya. Ia belum tahu bagaimana hasilnya, tetapi ia tahu serigala mana yang ingin ia besarkan.
Keesokan harinya, ia mendekati temannya saat jam istirahat. Ternyata temannya juga merasa bersalah, hanya saja ia malu untuk meminta maaf lebih dulu. Mereka pun berbaikan, dan siang itu mereka pulang bersama sambil tertawa. Sesampainya di rumah, si cucu berlari ke beranda dan berkata, “Kek, hari ini aku memberi makan serigala yang baik!” Sang kakek tertawa bahagia.
💖 Pesan Moral
- Setiap orang memiliki sisi baik dan sisi buruk; yang membedakan adalah sisi mana yang kita pelihara.
- Pikiran yang terus kita ulang adalah “makanan” bagi watak kita.
- Kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi, tetapi kita bisa memilih bagaimana menanggapinya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda modern “Dua Serigala” yang sering dikaitkan dengan suku Cherokee, meskipun asal-usul sebenarnya tidak dapat dipastikan; versi awal kisah ini muncul dalam tulisan-tulisan rohani berbahasa Inggris pada abad ke-20.